Asam Benzoat untuk Mengawetkan Makanan, Berapa Batas Amannya?

Penggunaan asam benzoat bertujuan untuk mencegah kapang dan bakteri. Asam benzoat termasuk jenis pengawet organik. Biasanya jenis pengawet organik lebih banyak dipakai, baik dalam bentuk asam maupun garamnya. Anda mungkin sering menemukan komposisi asam benzoat dalam produk makanan atau minuman kemasan. Tak hanya itu, asam benzoat juga berperan sebagai antioksidan yang mampu menghambat proses oksidasi.  

Azam benzoat termasuk ke dalam senyawa kimia pertama di Amerika Serikat yang digolongkan dalam Generally Recognized as Safe (GRAS) untuk produk pangan. Begitu pula penggunaannya di Indonesia yang telah mendapatkan perizinan dari pemerintah dan lembaga terkait. 

Batas penggunaan asam benzoat

Asam benzoat biasanya berbentuk kristal padat, tidak berbau, dan tidak berwarna sehingga penggunaannya tidak mengubah rasa dan aroma saat dicampur ke dalam makanan atau minuman. 

Penambahan asam benzoat ke dalam produk pangan telah diizinkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Meskipun demikian, terdapat batas aman yang harus diperhatikan. Berdasarkan Peraturan Kepala BPOM RI No. 36 tahun 2013, asam benzoat memiliki asupan harian yang dapat diterima yakni sebesar 0-5 mg/kg berat badan. Asam benzoat juga mempunyai nama lain, diantaranya Benzenecarboxylic acid, Phenylcarboxylic acid, atau Benzoic acid.

Sedangkan menurut Permenkes RI No.722/Menkes/Per/IX/88 dan No.1168/Menkes/Per/X/1999, batas maksimal penggunaan asam benzoat dan natrium benzoat dalam makanan yaitu 0,1% atau 1 gram asam benzoat dalam setiap 1 kg bahan makanan. 

Tubuh manusia memiliki mekanisme detoksifikasi sehingga tidak terjadi penumpukan asam benzoat saat masuk ke dalam tubuh. Zat ini akan bereaksi dengan glisin dan asam hipurat yang akhirnya dibuang oleh tubuh. Asam hipurat sendiri diproduksi di dalam hati dan dibuang melalui urin bersama dengan asam benzoat. 

Konsumsi asam benzoat melebihi dosis yang dianjurkan berisiko mengakibatkan sakit tenggorokan, nyeri lambung, mual dan muntah, serta kemungkinan mengalami reaksi alergi.  Apabila digunakan dalam jangka panjang, asam benzoat menyebabkan produksi urin berkurang sehingga kotoran atau racun yang tidak dapat dikeluarkan dan menumpuk pada ginjal. Gangguan ginjal pun mungkin akan terjadi. 

Darimana asam benzoat diperoleh?

Asam benzoat tidak dapat terbentuk secara alami, namun zat ini bisa ditemukan di berbagai tumbuhan seperti kayu manis, cengkeh, tomat, plum, atau beri-berian. Beberapa bakteri hasil fermentasi produk seperti yogurt juga bisa memproduksi asam benzoat. 

Penggunaan asam benzoat sebagai bahan pengawet biasanya pada produk pangan seperti kecap, acar timun kemasan, selai, margarin, saus, minuman buah-buahan segar, squash buah-buahan, minuman bersoda, bir, serta perasa sintesis buah-buahan. Efektifitas atau fungsi asam benzoat sebgai pengawet akan berkurang pada makanan yang mengandug lemak. Sebaliknya, efektifitasnya akan meningkat apabila digunakan pada produk pangan yang mengandung garam dapur dan gula pasir. 

Apa perbedaan asam benzoat dan natrium benzoat?

Baik asam benzoat maupun natrium benzoat sama-sama digunakan sebagai bahan pengawet produk pangan, bahkan keduanya kerap digunakan bersamaan. Karakteristik yang dimiliki juga hampir sama, yaitu tidak berbau dan berwarna putih. Namun, tekstur asam benzoat lebih kasar seperti kristal sedangkan natrium benzoat berupa bubuk halus. 

Pada dasarnya natrium benzoat merupakan hasil perpaduan antara asam benzoat dan natrium hidroksida. Natrium benzoat adalah bentuk asam benzoat yang paling banyak digunakan. Natrium benzoat larut dalam air pada suhu kamar, sedangkan asam benzoat tidak larut dalam air pada suhu kamar sehingga perlu dipanaskan terlebih dahulu. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *