Pencegahan Cacar Api pada Kelompok Lansia

Anda tentu familiar dengan program imunisasi untuk anak-anak, bukan? Keseluruhan program tersebut menyediakan pelayanan vaksinasi sebagai perlindungan dini untuk anak-anak dari penyakit tertentu, seperti cacar api. Imun tubuh anak dikatakan lebih rentan terhadap virus maupun penyakit lain.

Namun, bagaimana dengan perlindungan pada kelompok lansia? Seiring dengan bertambahnya usia, kelompok lansia juga akan mengalami penurunan kekebalan tubuh. Dengan begitu, kelompok lansia juga dianggap rentan terserang penyakit.

Bagaimana perlindungan dan cara mengatasi cacar api pada lansia?

Cacar api atau yang dalam bahasa medisnya dikenal dengan herpes zoster adalah infeksi yang diakibatkan oleh virus varicella zoster. Virus ini menjadi penyebab utama penyakit cacar api. Di samping itu, bagi orang yang pernah mengalami penyakit cacar air, memiliki risiko yang cukup besar untuk turut terinfeksi cacar api.

Dikatakan bahwa dampak dari infeksi cacar api terasa lebih menyakitkan jika dibanding dengan cacar air. Pada cacar api, akan muncul ruam atau bintil yang disertai dengan rasa, seperti terbakar. Rasa nyeri terbakar pada kulit akan tetap terasa walaupun setelah berbulan-bulan gejala cacar api menghilang.

Setelah seseorang dinyatakan sembuh dari cacar air, virus varicella tersebut tetap berada dalam tubuh, berdiam diri dalam sel tubuh dengan keadaan tidak aktif. Ketika seseorang mengalami penurunan kondisi tubuh dan merasa tidak sehat, virus akan kembali aktif dan mengakibatkan infeksi cacar, namun berjenis cacar api. Bagi kelompok usia 50 tahun ke atas atau lansia, daya tahan tubuh akan cenderung menurun, sehingga mudah terserang berbagai macam penyakit, cacar air.

Vaksinasi herpes zoster untuk kelompok lansia telah tersedia untuk mencegah timbulnya cacar api. Walaupun begitu, harga vaksin ini terbilang lebih mahal, karena tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah. Namun, jika Anda cukup beruntung dapat membeli vaksin ini, tidak ada salahnya untuk memberikan perlindungan pada orang tersayang di sekitar Anda. Dengan begitu, keluarga Anda dapat menikmati waktu bersama tanpa khawatir akan infeksi virus cacar api.

Tips Mengatasi Bayi Sering Muntah Sesudah Makan

Bayi yang lahap makan tentu akan membuat orang tua merasa senang, tapi bagaimana jika anak sering muntah setelah makan? Orang tua jelas tidak bisa menanyakan apa yang dirasakan oleh bayinya, sehingga terpaksa menebak-nebak apa yang menjadi penyebab bayi sering muntah dan apakah hal itu merupakan gejala penyakit.

Muntah termasuk dalam mekanisme proteksi tubuh karena muntah mengeluarkan apa yang dianggap tidak diperlukan tubuh atau apa dianggap berbahaya bagi tubuh. Oleh karena itu, Anda tidak perlu khawatir kita bayi sering muntah. Coba untuk cermati terlebih dahulu, apakah ia muntah sekali sampai dua kali dalam sehari, atau apakah ia tiap kali muntah setelah makan. Anda juga perlu amati, apakah bayi tetap terlihat sehat, aktif dan kenaikan berat badannya normal.

Jika bayi sering muntah tapi terlihat sehat, aktif dan normal, kemudian ia hanya kekenyangan atau ada sedikit masalah saat pemberian makan. Kemungkinan lain, sebenarnya bayi hanya gumoh. Gumoh adalah susu yang keluar bercampur sedikit asam lambung dan merupakan hal yang sering dialami bayi. Hal ini terjadi karena katup di bagian bawah kerongkongan bayi belum kuat sehingga susu di lambung mengalir balik ke kerongkongan.

Tips mengatasi bayi sering muntah atau gumoh

  • Jangan memaksa bayi menghabiskan susu atau makanannya. Jika bayi Anda termasuk yang kurang nafsu makan dan cepat kenyang, lebih baik kurangi porsi makannya tapi tambah frekuensi pemberian makan. Makan sedikit demi sedikit tapi mungkin bisa mencegah bayi sering muntah.
  • Jika bayi masih mengonsumsi ASI atau susu formula, coba susui dalam posisi bayi yang lebih tegak. Jangan lupa menyendawakan bayi tiap kali sesuai menyusu
  • Setelah memberikan setengah jam. Sadarkan ia dalam posisi duduk di kursi bayi, tapi handari penggunaan bouncy chair.
  • Sebaiknya bayi tidak langsung diajak aktif bermain setelah makan, karena gerak terlalu aktif sesaat setelah makan bisa membuatnya muntah.

Kebiasaan pemberian makan memang bisa menjadi penyebab bayi sering muntah. Tapi, Anda perlu waspada juga jika bayi muntah dan tampak lesu disertai demam atau diare. Jika kondisinya seperti tersebut, Anda perlu segera ke dokter.