Yang Perlu Diketahui Mengenai Hak Asuh Anak di Indonesia

Pembagian hak asuh anak ditentukan oleh undang-undang dan pertimbangan tertentu

Mengasuh anak secara bersama-sama antara suami dan istri memang menjadi keinginan tiap orang. Namun dalam suatu kasus misalnya perceraian, hak asuh anak kerap menjadi perdebatan karena menjadi objek rebutan bagi pasangan yang bercerai. 

Guna meminimalkan kondisi perebutan hak asuh anak bagi pasangan yang bercerai, berbagai aturan pun dibuat. Ditetapkan pula syarat-syarat pengasuhan anak yang kedua orang tuanya telah bercerai. Tidak terkecuali di Indonesia, ada aturan khusus yang merumuskan mengenai masalah hak asuh ini. 

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diketahui mengenai hak asuh anak di Indonesia. Beberapa hal ini dibuat dan diatur guna mencegah adanya ketidak pemenuhan kebutuhan anak pasca kedua orang tuanya bercerai. 

  • Diatur dalam Undang-Undang 

Pengaturan mengenai hak asuh anak dibuat tidak main-main. Bahkan perihal hak asuh ini, negara menubuatkannya dalam undang-undang. Adalah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak serta Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang menjadi sumber rujukan utama dalam masalah pengasuhan anak dalam keluarga. 

Pencantuman masalah hak asuh dibuat guna melindungi masa depan anak yang orang tuanya bercerai. Dengan adanya ketetapan mengenai hak asuh, diharapkan pemeliharaan dan pendidikan anak tidak terganggu, meskipun ayah dan ibunya sudah berpisah. 

  • Ibu Sebagai Pengasuh

Dalam aturan negara, ibu menjadi pihak terkuat yang berhak memperoleh hak asuh anak. Khususnya bagi anak yang berusia 12 tahun ke bawah, umumnya memang hak asuh akan jatuh ke tangan ibu setelah proses perceraian selesai. 

Akan tetapi untuk anak yang sudah melewati usia 12 tahun ke atas, pilihannya menjadi lebih ragam. Anak dinilai sudah mampu menentukan pilihannya. Sang anak juga berhak mengeluarkan keinginannya untuk diasuh oleh siapa, ayah atau ibunya. Jika sang anak memilih ayahnya untuk memelihara dia, hak asuh anak akan jatuh ke tangan suami. Namun jika sebaliknya, hak asuh anak akan jatuh ke tangan istri sesuai dengan undang-undang. 

  • Ayah Sebagai Penafkah

Hak asuh anak bisa jadi jatuh kepada ibu. Tetapi, peran ayah tidak berhenti sampai di sana. Dalam aturan undang-undang, ayah tetap berperan dalam tumbuh kembang anak, khususnya terkait masalah finansial. 

Ayah memiliki kewajiban tetap memberikan nafkah bagi anak-anak yang sudah diasuh oleh mantan istrinya. Ayah diwajibkan memenuhi berbagai kebutuhan sang anak, khususnya terkait biaya hidup dan biaya pendidikan anak hingga dewasa. Dengan jatuhnya hak asuh anak ke tangan ibu, bukan berarti pula peran ayah untuk memelihara sang anak ditiadakan. Selain finansial, sang ayah juga masih diizinkan menjalankan pengasuhan anak untuk kebaikan tumbuh kembang sang anak. 

  • Bergantung Pengadilan 

Undang-undang memang sudah mencantumkan maklumat mengenai kepemilikan hak asuh anak bagi pasangan yang bercerai. Namun, aturan tersebut nyatanya masih bisa diubah oleh keputusan hakim pengadilan. 

Hakim pengadilan memiliki hak untuk menimbang risiko dan manfaat ketika hak asuh anak dijatuhkan ke salah satu pihak orang tua. Dengan pertimbangan ini pula, tidak jarang hakim membuat putusan untuk memindahkan hak asuh anak di bawah 12 tahun dari tangan ibu kepada ayahnya. Kesehatan, kondisi kejiwaan, hingga masalah finansial menjadi beberapa pertimbangannya. Keterangan saksi serta kondisi sosial juga menjadi pertimbangan kuat pengadilan dalam memutuskan hak asuh anak jatuh ke tangan siapa. 

*** 

Hak asuh anak bisa saja jatuh ke tangan suami ataupun istri. Meskipun demikian, bukan berarti putusan tersebut justru membuat pertengkaran yang justru akan merusak mental anak. Toh nyatanya meskipun hak asuh anak jatuh ke tangan salah satu pasangan, bukan berarti pasangan yang lain tidak boleh berinteraksi dengan buah hatinya. 

Ini 5 Penyebab Diare pada Bayi

Bayi yang mengalami mencret lebih dari 3 kali dalam sehari bisa disebut sedang mengalami diare. Penanganan diare pada bayi bisa disesuaikan dengan penyebabnya agar lebih efektif. Berikut ini 5 penyebab diare pada bayi yang sering terjadi.

  • Infeksi

Infeksi menjadi jadi salah satu penyebab diare pada bayi. Perlu Anda tahu, infeksi dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit. Bayi dapat mengalami infeksi akibat penularan ataupun kontak langsung dengan anak lain yang terinfeksi karena bertukar mainan ataupun barang-barang dengan anak lain. Infeksi virus rotavirus merupakan infeksi yang paling sering terjadi dalam kasus diare pada bayi. Jika karena virus, maka bayi tidak memerlukan antibiotik. Asupan cairan merupakan hal utama yang dibutuhkan untuk menjaga kebutuhan cairan bayi agar tidak mengalami dehidrasi.

  • Kebiasaan

Bayi kerap memasukan jari atau benda lain ke dalam mulut sehingga dapat menyebabkan kuman masuk ke dalam sistem pencernaan bayi. Hal ini dapat dicegah dengan memastikan lingkungan di sekitar bayi berada dalam keadaan yang bersih dan sehat. Mainan dan perlengkapan bayi pun perlengkapan bayi yang sering digunakan juga perlu diperhatikan kebersihannya. Seringkali mainan yang jatuh tidak dibersihkan terlebih dahulu dan langsung diberikan kembali pada bayi. Hal ini tentu dapat membuat bayi berisiko terkena diare.

  • Alergi

Alergi merupakan salah satu penyebab diare selain infeksi. Bayi yang alergi terhadap makanan atau obat-obatan tertentu bisa menjadi penyebab diare. Biasanya diare akibat dari alergi muncul dalam hitungan jam setelah pemberian makanan atau obat. Cara yang paling efektif untuk menghentikan diare akibat alergi adalah dengan berhenti membersihkan makanan atau obat tersebut. Jika alergi tersebut diakibatkan oleh obat, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter yang memberikan obat tersebut agar diberikan obat pengganti lainnya.

  • Jus buah

Sistem pencernaan bayi juga masih berkembang dan belum sempurna. Berbeda dengan orang dewasa, minum juga buah tertentu dapat menyehatkan. Namun, pada bayi minum terlalu banyak juga dapat menyebabkan diare.

  • Keracunan makanan

Keracunan makanan menjadi penyebab lainnya diare pada bayi. Selain diare biasanya keracunan makanan juga dapat disertai dengan muntah-muntah. Segera bawa bayi ke dokter untuk diperiksa dan ditangani lebih lanjut.

Tips Mengatasi Bayi Sering Muntah Sesudah Makan

Bayi yang lahap makan tentu akan membuat orang tua merasa senang, tapi bagaimana jika anak sering muntah setelah makan? Orang tua jelas tidak bisa menanyakan apa yang dirasakan oleh bayinya, sehingga terpaksa menebak-nebak apa yang menjadi penyebab bayi sering muntah dan apakah hal itu merupakan gejala penyakit.

Muntah termasuk dalam mekanisme proteksi tubuh karena muntah mengeluarkan apa yang dianggap tidak diperlukan tubuh atau apa dianggap berbahaya bagi tubuh. Oleh karena itu, Anda tidak perlu khawatir kita bayi sering muntah. Coba untuk cermati terlebih dahulu, apakah ia muntah sekali sampai dua kali dalam sehari, atau apakah ia tiap kali muntah setelah makan. Anda juga perlu amati, apakah bayi tetap terlihat sehat, aktif dan kenaikan berat badannya normal.

Jika bayi sering muntah tapi terlihat sehat, aktif dan normal, kemudian ia hanya kekenyangan atau ada sedikit masalah saat pemberian makan. Kemungkinan lain, sebenarnya bayi hanya gumoh. Gumoh adalah susu yang keluar bercampur sedikit asam lambung dan merupakan hal yang sering dialami bayi. Hal ini terjadi karena katup di bagian bawah kerongkongan bayi belum kuat sehingga susu di lambung mengalir balik ke kerongkongan.

Tips mengatasi bayi sering muntah atau gumoh

  • Jangan memaksa bayi menghabiskan susu atau makanannya. Jika bayi Anda termasuk yang kurang nafsu makan dan cepat kenyang, lebih baik kurangi porsi makannya tapi tambah frekuensi pemberian makan. Makan sedikit demi sedikit tapi mungkin bisa mencegah bayi sering muntah.
  • Jika bayi masih mengonsumsi ASI atau susu formula, coba susui dalam posisi bayi yang lebih tegak. Jangan lupa menyendawakan bayi tiap kali sesuai menyusu
  • Setelah memberikan setengah jam. Sadarkan ia dalam posisi duduk di kursi bayi, tapi handari penggunaan bouncy chair.
  • Sebaiknya bayi tidak langsung diajak aktif bermain setelah makan, karena gerak terlalu aktif sesaat setelah makan bisa membuatnya muntah.

Kebiasaan pemberian makan memang bisa menjadi penyebab bayi sering muntah. Tapi, Anda perlu waspada juga jika bayi muntah dan tampak lesu disertai demam atau diare. Jika kondisinya seperti tersebut, Anda perlu segera ke dokter.