8 Penyebab Menggigil Tanpa Demam yang Sering Terjadi

Tubuh biasanya akan menggigil sebagai respon jika suhu di sekitar dingin atau Anda mengalami demam. Namun, ada juga tubuh menggigil tanpa demam dan suhu pun terbilang normal. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh beberapa faktor lain seperti kadar gula darah rendah, rasa cemas, atau karena melakukan aktivitas fisik yang terlalu intens.

Selain itu, menggigil tanpa demam juga menjadi indikasi Anda mengidap penyakit tertentu, tentu semua tergantung pada penyebabnya.

Penyebab Tubuh Menggigil Tanpa Demam

Berikut beberapa hal yang dapat menyebabkan tubuh Anda menggigil tanpa demam yang perlu diperhatikna.

  • Efek Samping Obat

Bisa saja seseorang merasa menggigil karena efek samping dari obat. Mungkin karena dosisi obat yang dikonsumsi tidak tepat, atau tidak cocok dengan pengobatan alternatif tertentu yang dijalani.

Oleh karenanya, sebelum mengkonsumsi obat, penting untuk diperhatikan dengan seksama efek samping obat setelah dikonsumsi. Hindari juga mengkonsumsi obat tanpa resep dari dokter.

  • Hipotiroidisme

Kondisi ini terjadi saat kelenjar tiroid seseorang tidak memproduksi hormon yang cukup untuk mengendalikan metabolisme tubuhnya. Sehingga kondisi ini membuat mereka jadi lebih sensitif terhadap suhu dingin dan membuatnya kerap mengigil.

Orang yang mengalami hipotiroidisme ini juga mudah lelah, konstipasi, kulit kering, wajah bengkak, rambut menipis, depresi, tidak mengeluarkan keringat, siklus haid tidak teraturs, serta tiroid akan membengkak.

  • Melakukan Aktivitas Fisik yang Esktrem

Anda juga bisa menggigil saat melakukan aktivitas fisik yang terlalu ekstrem, seperti marathon atau melakukan olahraga ekstrem lainnya. Sebab, kondisi ini akan membuat temperatur tubuh menjadi berubah. Tubuh bisa menggigil tanpa demam, karena dipicu oleh udara yang terlalu dingin ataupun terlalu panas.

Tubuh juga menunjukkan reaksi berupa bulu kuduk merinding, sakit kepala, mual, kram otot, serta muntah. Jadi, pastikan tubuh Anda tetap terhidrasi dengan baik serta gunakanlah pakaian olahraga yang sesuai dengan cuaca saat itu.

  • Terpapar Udara Dingin

Ketika tubuh berada di suhu udara yang dingin, biasanya akan membuat seseorang menggigil. Bisa juga ketika Anda mengenakan pakaian yang basah atau lembap.

Pada orang yang mulai masuk usia tua, biasanya tubuh mulai kehilangan kemampuan untuk mengendalikan temperatur tubuh yang menurun. Apalagi jika mereka menderita penyakit jantung atau diabetes.

Akan tetapi, menggigil akibat cuaca dingin biasanya akan hilang sendiri jika tubuh sudah hangat kembali. Tapi, jika terpapar terlalu intens, juga bisa berisiko menyebabkan frostbite atau hipotermia.

  • Reaksi Emosional

Ternyata reaksi emosional juga bisa membuat tubuh menggigil tanpa demam sama sekali. Apalagi jika emosi yang Anda rasakan begitu juat, misalnya rasa takut atau rasa cemas berlebihan.

Atau, tubuh bisa menggigil akibat emosi yang positif. Misalnya saat Anda mendengarkan kata-kata inspiratif, mendengarkan musik yang penuh history, atau sedang menonton film yang mengharukan. Reaksi-reaksi horman dalam tubuh ini juga bisa membuat Anda merasa menggigil.

  • Malnutrisi

Saat tubuh tidak mendapatkan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan, maka terjadilah kondisi malnutrisi. Mungkin karena kurang asupan makanan bergizi, dan sebagainya. Sehingga membuat tubuh tidak bisa menyerap nutrisi secara optimal. Salah satu gejala Anda mengalami malnutrisi adalah menggigil tanpa merasa demam sekalipun.

Gejala lainnya bisa berupa kulit tampak pucat, sulit berkonsentrasi, muncul ruam, lemas, ngantuk, persendian terasa kebas, hingga mempengaruhi kesuburan.

  • Anemia

Tubuh yang kekurangan zat besi atau anemia bisa juga membuat seseorang mengalami menggigil tanpa demam. Selain itu, juga akan disertai dengan gejala seperti kulit pucat, lesu, dan sebagainya. Anda bisa mengkonsumsi suplemen hingga melakukan transfusi darah untuk mengobatinya.

  • Respon Terhadap Infeksi

Saat terjadi infeksi tertentu, tubuh akan memberikan respon salah satunya dengan menggigil. Ini merupakan cara kerja tubuh dalam merespon agar sistem imun bisa bekerja lebih cepat dan maksimal. Infeksi yang bisa menyebabkan seseorang menggigil tanpa demam misalnya pneumonia, malaria, hingga infeksi saluran kemih.

Ada juga infeksi karena batu ginjal juga bisa membuat seseorang menggigil. Segera periksakan ke dokter jika mengalami gejala-gejala ini.

Waspada, Bahaya Kafein dalam Jangka Panjang!

Kafein adalah salah satu zat psikoaktif yang banyak terdapat di dalam minuman kopi. Selain itu, kafein juga terdapat pada teh, minuman bersoda, dan minuman energi. Secara sosial, zat kafein memang dapat diterima. Hanya saja, Anda tetap perlu hati-hati terhadap bahaya kafein jika dikonsumsi secara berlebihan.

Dosis aman konsumsi kafein.

Dalam jumlah tertentu, kafein dapat memberikan manfaat untuk tubuh kita. Dilansir dari laman Mayo Clinic, memenuhi asupan kafein hingga 400 miligram (mg) kafein sehari masih aman untuk kebanyakan orang dewasa yang sehat. Jumlah tersebut sebanding dengan empat cangkir kopi yang diseduh, sepuluh kaleng minuman bersoda, atau dua kaleng minuman berenergi. Anda tetap harus memperhatikan kandungan kafein dalam kemasan, karena bisa bervariasi antar minuman.

Jika Anda mengonsumsinya dalam jumlah yang over, bahaya kafein dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, bahkan bisa menyebabkan kematian. Walaupun penggunaan kafein aman untuk orang dewasa, tidak dianjurkan untuk anak-anak. Sementara itu, remaja dan dewasa muda perlu berhati-hati tentang asupan kafein yang berlebihan, apalagi kafein dicampur dengan alkohol dan obat lain.

Apabila seorang wanita yang sedang hamil atau menyusui ingin mengonsumsi minuman yang mengandung kafein, maka sebaiknya konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu. Biasanya, dokter membatasi konsumsi kafein kurang dari 200 mg setiap hari.

Bahaya kafein jika dikonsumsi berlebihan.

Efek jangka pendek.

Alcohol and Drug Foundation menyatakan bahwa pengaruh kafein setiap orang berbeda-beda, yang dipengaruhi oleh:

  • Ukuran, berat badan, dan kondisi kesehatan.
  • Sering atau tidak mengonsumsi minuman berkafein.
  • Penggunaan obat lain pada waktu yang sama.
  • Jumlah kafein yang dikonsumsi.

Bahaya kafein yang mungkin bisa muncul dalam waktu 5 hingga 30 menit setelah mengonsumsinya berlebihan dan dapat berlanjut hingga 12 jam adalah:

  • Menjadi lebih aktif dan berhati-hati.
  • Mulai gelisah dan merasa pusing.
  • Cemas dan mudah tersinggung.
  • Dehidrasi dan frekuensi buang air kecil jadi lebih sering.
  • Suhu tubuh jadi lebih tinggi.
  • Napas dan detak jantung jadi lebih cepat.
  • Sakit kepala dan kurang berkonsentrasi.
  • Sakit perut.

Anak-anak dan remaja yang mengonsumsi minuman energi yang mengandung kafein juga dapat mengalami masalah tidur dan kecemasan.

Overdosis

Bahaya kafein yang dikonsumsi dalam jumlah besar juga bisa menyebabkan overdosis. Tanda-tandanya bisa terlihat dari:

  • Tremor.
  • Mual dan muntah.
  • Detak jantung sangat cepat dan tidak teratur.
  • Kebingungan dan mudah panik.
  • Kejang-kejang.

Orang yang mengalami overdosis kafein bisa berujung dengan kematian, tetapi ini sangat jarang. Menurut para ahli, kafein bisa menyebabkan kematian jika dikonsumsi dalam jumlah 5 hingga 10 gram kafein (setara dengan 80 cangkir kopi kental) yang dikonsumsi satu per satu. Sementara itu, pada anak kecil, keracunan kafein dapat terjadi jika jumlah yang dikonsumsi lebih rendah. Misalnya, sekitar 1 gram kafein atau setara dengan sekitar 12 minuman berenergi yang dikonsumsi satu per satu.

Efek jangka panjang.

Dalam jangka panjang, konsumsi kafein secara teratur dan berlebihan, misalnya lebih dari 4 cangkir kopi sehari, pada akhirnya dapat menyebabkan:

  • Mudah gugup.
  • Susah tidur.
  • Mudah gelisah.
  • Cepat marah dan sakit kepala.
  • Pusing dan telinga berdenging.
  • Tremor otot.
  • Tubuh lemah, letih, dan lesu.
  • Detak jantung dan laju pernapasan cepat.
  • Nafsu makan buruk, mual, muntah, dan diare.
  • Mudah haus, sering buang air kecil, atau peningkatan volume urin.
  • Detak jantung jadi tidak beraturan.
  • Tekanan darah rendah, yang dapat dilihat dengan pingsan atau jatuh.
  • Kejang, kebingungan, atau delirium.

Bahaya kafein jika dikonsumsi bersamaan dengan obat lain, baik obat yang dijual bebas maupun yang diresepkan, dapat menyebabkan:

  • Kafein dan alkohol: ketegangan yang sangat besar pada tubuh dan menutupi beberapa efek alkohol, seperti tertidur, minum lebih banyak, dan perilaku pengambilan keputusan.
  • Kafein dan obat perangsang lainnya: meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler.

Catatan

Jika Anda ingin mengonsumsi minuman berkafein, alangkah lebih baik Anda memperhatikan asupan kafein yang telah dikonsumsi dalam sehari. Ini bertujuan untuk mencegah efek samping dan bahaya kafein yang tidak diinginkan. Tidak ada larangan mengonsumsi minuman berkafein selama jumlah yang dikonsumsi masih dalam batas aman. Hubungi dokter atau ahli gizi untuk memastikan batas aman konsumsi kafein harian Anda, terutama jika Anda memiliki riwayat kesehatan tertentu.

6 Fakta Obat Generik yang Wajib Diketahui

Sudah tidak asing bukan dengan istilah obat generik? Jenis obat yang satu ini dinilai banyak kalangan sebagai salah satu solusi agar masyarakat bisa memperoleh obat dengan harga yang lebih terjangkau, namun dengan manfaat yang tidak kalah besar dibandingkan jenis obat satunya lagi, yakni obat paten.

Di Indonesia sendiri, obat generik banyak dijadikan resep untuk berbagai penyakit yang biayanya ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Namun untuk diketahui, penggunaan jenis obat ini tidak hanya di Indonesia, loh. Istilah obat generik juga terdapat hampir di seluruh negara di dunia.

Walaupun banyak kalangan yang menganggap baik kehadiran jenis obat murah ini, banyak kalangan lainnya yang masih ragu memilih obat generik karena mempertimbangkan kualitas dan alasan lainnya. Padahal jika melihat fakta-fakta di bawah ini, Anda akan sadar bahwa obat generik ternyata benar-benar menguntungkan dan bisa ampuh mengobati berbagai keluhan penyakit!

  1. Kualitas dan Performa Bersaing

Kebanyakan orang enggan mengonsumsi obat generik karena memandang kemampuan jenis obat ini dalam menyembuhkan pasien tidak seefektif obat paten. Apakah Anda termasuk orang yang berpikir demikian? Padahal obat generik memiliki kualitas dan performa yang bersaing dengan obat paten sejenis. Kemampuan yang sama ini karena bahan aktif yang digunakan obat generik tidak ubahnya dengan bahan aktif yang dipakai di obat paten.

  • Standar Obat Terjamin

Alasan obat generik mampu bersaing dengan performa obat paten karena jenis obat ini sudah memenuhi standar pembuatan obat. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Indonesia maupun Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat sudah berulang kali mengkaji soal standar obat generik. Faktanya, obat generik tak lain merupakan duplikasi dari obat paten yang memiliki standar sama.

  • Perusahaan Pembuat yang Sama

Kira-kira siapa sebenarnya perusahaan yang membuat obat generik? Fakta ini mungkin akan mengejutkan Anda. Pasalnya, tidak ada perusahaan khusus yang membuat obat generik. Jenis obat yang kerap disebut lebih murah ini dibuat oleh berbagai perusahaan yang ternyata juga memproduksi jenis obat serupa tapi dengan kualitas paten.

  • Awal dari Akhir Hak Paten

Obat paten umumnya memiliki jangka waktu merek untuk tiap paten yang dimilikinya. Ketika masa paten tersebut habis dan belum ada perpanjangan terkait eksklusivitas obat tersebut, obat paten tersebut bisa bergeser menjadi obat generik. Perusahaan pembuat obat menggunakan jenis obat paten tersebut, kemudian mengganti merek serta tampilan pembungkusnya agar menjadi obat generik.

  • Biaya Lebih Terjangkau

Meskipun menggunakan bahan aktif yang sama dengan obat paten, biaya produksi obat generik lebih hemat karena tidak menggunakan bahan tambahan untuk “mengenakkan” rasa. Menurut penelitian FDA, tidak tanggung-tanggung perbedaan ongkos antara obat generik dan obat paten bisa mencapai 80—85 persen. Ongkos produksi yang lebih terjangkau ini menguntungkan bagi konsumen karena harga jual untuk obat generik menjadi jauh lebih murah.

  • Bahan Aktif Jadi Nama Jual

Ketika memilih obat paten, Anda akan mendapatkan berbagai merek obat yang sebenarnya memiluki kandungan bahan aktif serupa. Namun, hal tersebut tidak akan temukan pada pemasaran obat generik. Obat generik tidak diperkenankan memiliki nama dagang khusus, melainkan harus mengikuti nama zat aktif yang merupakan komponen dan fungsi utama obat tersebut.

Mengetahui fakta akan menghindarkan Anda dari opini yang tidak mendasar. Dengan fakta mengenai obat generik pula, Anda bisa mempertimbangakn menggunakan obat ini untuk memperoleh manfaat besar dengan ongkos yang lebih kecil tentunya.

Mengenal Jenis Terapi Ozon

Terapi ozon adalah terapi pengobatan medis alternatif yang memperkenalkan ozon atau ozonida ke tubuh Anda. Terapi ini dilakukan untuk mengobati penyakit atau luka.

Ozon sendiri adalah gas tidak berwarna yang terdiri dari tiga atom oksigen (O3). Gas ozon dapat digunakan untuk mengobati kondisi medis dengan merangsang sistem kekebalan tubuh Anda dan juga dapat digunakan untuk mendisinfeksi dan mengobati penyakit.

Terapi ozon bekerja dengan mengganggu proses tidak sehat dalam tubuh Anda, dimana hal ini dapat membantu menghentikan pertumbuhan bakteri yang berbahaya bagi tubuh.

Medical ozon sendiri telah digunakan sebagai desinfektan pada persediaan medis dan mengobati berbagai kondisi yang berbeda selama lebih dari 150 tahun. Misalnya, jika Anda memiliki infeksi dalam tubuh Anda, terapi ozon dipercaya dapat menghentikan penyebarannya.

Beberapa penelitian telah menunjukkan terapi ozon efektif dalam mengobati infeksi yang disebabkan oleh:

  • Bakteri
  • Birus
  • Jamur
  • Ragi
  • Protozoa

Terapi ozon juga membantu menghilangkan sel yang terinfeksi. Begitu tubuh Anda menghilangkan sel-sel yang terinfeksi, tubuh akan menghasilkan sel-sel baru yang sehat. Terapi ozon dapat digunakan untuk berbagai kondisi berikut:

  • Gangguan pernapasan

Orang dengan segala jenis gangguan pernapasan dapat mencoba terapi ozon. Dengan memberikan lebih banyak oksigen ke darah Anda, terapi ozon dapat membantu mengurangi stres pada paru-paru Anda. Namun terapi ozon tidak direkomendasikan untuk penderita asma.

  • Diabetes

Terapi ozon juga menunjukkan harapan dalam mengurangi resiko komplikasi dari diabetes. Komplikasi biasanya disebabkan oleh stres oksidatif dalam tubuh. Jika terapi ozon dapat membawa oksigen segar baru ke dalam darah dan jaringan, penderita diabetes bisa mendapatkan hasil yang jauh lebih baik. Menurut sebuah studi, terapi ozon dapat membantu untuk memperbaiki kulit dan jaringan penderita diabetes.

  • Gangguan kekebalan tubuh

Terapi ozon mungkin bermanfaat bagi penderita gangguan kekebalan tubuh karena dapat membantu merangsang sistem kekebalan tubuh Anda. Namun masih diperlukan lebih banyak penelitian tentang penggunaan terapi ozon untuk pengobatan kekebalan tubuh.

Terdapat banyak cara untuk menerima terapi ozon. Biasanya penyedia layanan kesehatan Anda akan membahas pilihan terbaik untuk jenis perawatan Anda. Perawatan terapi ozon dapat diberikan dalam tiga cara, yaitu:

  • Langsung ke jaringan

Jika Anda menjalani terapi ozon untuk masalah ekstremitas atau luka, gas ozon kemungkinan besar akan diterapkan langsung ke jaringan bagian tubuh yang terkena. Gas akan diberikan dalam penutup pelindung.

  • Intravena

Untuk mengobati gangguan internal, gas ozon biasanya dilarutkan ke dalam darah yang diambil dari Anda. Kemudian, darah dengan gas terlarut disuntikkan kembali ke Anda melalui infus. Namun penggunaan intravena di AS tidak dianjurkan karena riwayat masalah serius seperti gumpalan dalam darah.

  • Intramuskuler

Terapi ozon juga tersedia sebagai injeksi intramuskuler. Untuk injeksi ini, gas ozon dicampur dengan darah atau air steril Anda sebelum diberikan.

Terapi ozon tidak banyak digunakan saat ini, dan seperti pengobatan medis lainnya, terapi ozon juga memiliki beberapa resiko. Gas ozon memiliki jumlah atom ganjil, yang membuatnya tidak stabil sehingga ketidakstabilan ini mengartikan bahwa gas ozon tidak dapat diprediksi.

Dokter atau perawat harus sangat berhati-hati saat menggunakan terapi ozon. Karena terkena oksigen konsentrasi tinggi dapat merusak sel darah merah, sehingga pengukurannya harus tepat.

Jika Anda ingin melakukan terapi ozon, Anda disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter Anda tentang semua resiko yang mungkin terjadi dan timbang terhadap potensi manfaat dari perawatan yang akan Anda dapatkan. Anda juga harus mendiskusikan pilihan perawatan lain dengan dokter Anda untuk membantu menentukan rencana perawatan terbaik untuk kondisi Anda.

Atasi Penyakit Miom Tidak Harus dengan Pembedahan

Apakah Anda pernah mendengar tentang penyakit miom? Dalam bahasa medis mioma uteri atau dikenal dengan tumor jinak yang tumbuh dari otot rahim. Kondisi ini akan berdampak pada kesuburan dan juga menimbulkan permasalahan ketika dalam masa kehamilan.

Umumnya, penyakit miom diatasi dengan prosedur pembedahan dengan cara mengangkat miom tersebut. Namun, seiring perkembangan zaman, maka berkembang pula prosedur medis, termasuk untuk mengatasi penyakit miom, baik yang bersifat tidak invasif maupun minimal invasif.

Mengatasi penyakit miom tanpa prosedur pembedahan

Lalu, prosedur medis selain pembedahan seperti apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit miom? Lebih jelasnya, mari simak informasi berikut!

  • Embolisasi pembuluh darah Rahim

Prosedur medis embolisasi pembuluh darah Rahim dilakukan dengan menyuntikkan zat khusus ke dalam pembuluh darah rahim. Zat ini bekerja dengan membuat sumbatan dan menghambat aliran darah ke miom. Sel-sel miom yang tidak mendapatkan asupan darah akan berangsur menciut dan kemudian mati.

  • Focused ultrasound surgery

Prosedur Focused Ultrasound Surgery (FUS) dilakukan dengan metode Teknik pengangkatan miom tanpa pembedahan, melainkan dengan bantuan gelombang suara. FUS membutuhkan panduan dengan MRI, sehingga dapat diketahui letak miom secara tepat. Panas dan getaran dari gelombang suara akan merusak dan menghancurkan miom.

  • Miomektomi Laparoskopik

Prosedur untuk mengatasi miom yang satu ini menggunakan bantuan alat laparoskopi dengan membuat lubang kecil pada permukaan perut. Prosedur miomektomi laparoskopi dapat mengangkat miom tanpa harus mengangkat rahim.

  • Ablasi Endometrial

Dengan prosedur ablasi, proses mengatasi miom dilakukan dengan alat khusus yang akan dimasukkan ke dalam rahim. Alat tersebut kemudian akan mengeluarkan panas, seperti energi microwave, air panas, atau energi listrik ke miom yang hendak dituju. Dinding rahim atau endometrium akan turut luruh, sehingga dapat mengurangi perdarahan yang diakibatkan oleh miom.

Jika miom berada di dekat dinding rahim, maka miom dapat dihilangkan dengan prosedur ini. Walaupun begitu, prosedur ablasi tidak memungkinkan untuk menghilangkan endometrium yang berada di luar rongga rahim.

Memutuskan prosedur yang tepat untuk mengatasi miom membutuhkan pertimbangan. Anda perlu berkonsultasi dan berdiskusi dengan dokter agar pilihan Anda tidak menimbulkan komplikasi lebih lanjut pada kondisi kesehatan Anda.

Ubah Gaya Hidup Lebih Sehat untuk Cegah Dispepsia Semakin Parah

Pernahkah Anda merasakan nyeri perut berlebih disertai dengan rasa kembung, mual, dan juga sebah? Jika iya, Anda perlu waspada terhadap rasa tidak nyaman tersebut yang dapat berujung pada gejala gangguan pencernaan atau yang juga disebut dengan dispepsia.

Dispepsia atau gangguan pencernaan berdasarkan faktor pemicunya terbagi menjadi dua jenis, yaitu dispepsia organik dan fungsional. Faktor pemicu dispepsia organik dapat berupa efek dari mengonsumsi obat tertentu maupun penyakit bawaan, seperti tukak lambung dan kanker. Sementara itu, dispepsia fungsional terjadi ketika terdapat gejala gangguan pencernaan, namun tidak ditemukannya kelainan pada sistem pencernaan.

Dalam kasus dispepsia fungsional, pemicu penyakit ini seringkali berkaitan erat dengan gaya hidup, termasuk di dalamnya stres, kebiasaan merokok, dan pola makan yang buruk. Kombinasi dari pola makan dan gaya hidup tertentu dapat berdampak pada kesehatan. Maka dari itu, perubahan gaya hidup yang lebih sehat dapat mengurangi gejala dispepsia secara signifikan.

Langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi dispepsia?

Di bawah ini, terdapat beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi dispepsia:

  • Perhatikan pola makan

Penderita pepsia umumnya disarankan untuk menghindari makan dengan kandungan asam yang tinggi, seperti jeruk, lemon, dan tomat. Selain itu, makanan yang memiliki kadar lemak tinggi dan berminyak juga tidak disarankan. Alkohol, kafein, dan minuman bersoda menjadi pantangan bagi penderita dispepsia.

Anda dapat membatasi porsi makan dan cobalah untuk mengunyah makanan hingga lembut agar mudah dicerna.

  • Mengelola stres dengan bijak

Perasaan tertekan dan cemas dapat mengganggu sistem pencernaan dan produksi asam serta enzim pencernaan. Kondisi ini akan berdampak pada rasa tidak nyaman pada perut.

Menjaga diri agar tidak terlalu menahan beban pikiran dapat dilakukan dengan berkonsultasi pada psikolog, mengikuti kelas yoga, atau menekuni hobi. Selain itu, penting bagi Anda untuk memiliki support system yang baik.

  • Terapkan konsep mencintai diri sendiri

Menjaga kesehatan merupakan penerapan dari konsep mencintai diri sendiri. Anda dapat melakukan ini dengan melakukan olahraga maupun aktivitas fisik secara rutin. Usahakan untuk tidak langsung berolahraga setelah makan. Hindari begadang dan usahakan untuk pergi tidur setelah 2-3 jam makan malam.

Pencegahan Cacar Api pada Kelompok Lansia

Anda tentu familiar dengan program imunisasi untuk anak-anak, bukan? Keseluruhan program tersebut menyediakan pelayanan vaksinasi sebagai perlindungan dini untuk anak-anak dari penyakit tertentu, seperti cacar api. Imun tubuh anak dikatakan lebih rentan terhadap virus maupun penyakit lain.

Namun, bagaimana dengan perlindungan pada kelompok lansia? Seiring dengan bertambahnya usia, kelompok lansia juga akan mengalami penurunan kekebalan tubuh. Dengan begitu, kelompok lansia juga dianggap rentan terserang penyakit.

Bagaimana perlindungan dan cara mengatasi cacar api pada lansia?

Cacar api atau yang dalam bahasa medisnya dikenal dengan herpes zoster adalah infeksi yang diakibatkan oleh virus varicella zoster. Virus ini menjadi penyebab utama penyakit cacar api. Di samping itu, bagi orang yang pernah mengalami penyakit cacar air, memiliki risiko yang cukup besar untuk turut terinfeksi cacar api.

Dikatakan bahwa dampak dari infeksi cacar api terasa lebih menyakitkan jika dibanding dengan cacar air. Pada cacar api, akan muncul ruam atau bintil yang disertai dengan rasa, seperti terbakar. Rasa nyeri terbakar pada kulit akan tetap terasa walaupun setelah berbulan-bulan gejala cacar api menghilang.

Setelah seseorang dinyatakan sembuh dari cacar air, virus varicella tersebut tetap berada dalam tubuh, berdiam diri dalam sel tubuh dengan keadaan tidak aktif. Ketika seseorang mengalami penurunan kondisi tubuh dan merasa tidak sehat, virus akan kembali aktif dan mengakibatkan infeksi cacar, namun berjenis cacar api. Bagi kelompok usia 50 tahun ke atas atau lansia, daya tahan tubuh akan cenderung menurun, sehingga mudah terserang berbagai macam penyakit, cacar air.

Vaksinasi herpes zoster untuk kelompok lansia telah tersedia untuk mencegah timbulnya cacar api. Walaupun begitu, harga vaksin ini terbilang lebih mahal, karena tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah. Namun, jika Anda cukup beruntung dapat membeli vaksin ini, tidak ada salahnya untuk memberikan perlindungan pada orang tersayang di sekitar Anda. Dengan begitu, keluarga Anda dapat menikmati waktu bersama tanpa khawatir akan infeksi virus cacar api.