Perpisahan pada Pasangan Menikah Campuran, Ketahui Persyaratan Cerainya

Semua orang mendambakan kehidupan pernikahan harmonis dan langgeng, terlepas dari perbedaan ras serta suku budaya. Tapi tidak ada yang tahu jika keluarga kecil yang telah dibangun harus berakhir pada sidang perceraian. 

Bagi pasangan menikah campuran, yang berarti perkawinan antara WNI dan WNA, persyaratan cerai yang harus dipenuhi sama seperti pada pasangan menikah lainnya. Hanya saja prosedur cerainya berbeda dan sedikit lebih rumit.

Persyaratan cerai pihak istri dan suami umumnya sama

Persyaratan mengajukan gugatan cerai

Sebelum mengajukan gugatan cerai, sangat perlu untuk mengetahui hal-hal berikut ini:

1. Alasan perceraian

Menurut Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan), penggugat harus mengemukakan alasan yang cukup memastikan bahwa suami dan isteri tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami isteri.

Alasan cerai yang sah tertuang dalam Pasal 19 PP Pelaksanaan Perkawinan, antara lain sebagai berikut:

  • Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi  pemabuk,  pemadat,  penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan
  • Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya
  • Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
  • Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain;
  • Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;
  • Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

2. Kelengkapan dokumen

Pemberkasan menjadi salah satu persyaratan cerai yang penting. Siapkan fotokopi akta atau buku pernikahan, akta kelahiran anak jika ada, alamat terakhir pasangan, juga salinan lain terkait perceraian. 

Misalnya, bukti putusan pengadilan yang menyatakan penjara pasangan jika pasangan Anda pernah dijatuhi hukuman lima tahun penjara. 

Jika Anda berselisih tentang masalah harta dengan pasangan, Anda harus menyiapkan masing-masing 3 lembar fotokopi surat perjanjian nikah (pranikah atau surat nikah), fotokopi dokumen berharga sebagai bukti kepemilikan, dan fotokopi surat bukti hutang. 

Jika sebelumnya Anda menikah di luar negeri dan berniat bercerai di Indonesia, Anda juga harus mencatat lokasi pernikahan dan memastikan bahwa pernikahan Anda telah didaftarkan di Kedutaan Besar Indonesia setempat saat menikah dan dilaporkan kepada catatan pernikahan setempat di Indonesia.

Selanjutnya dalam surat cerai, penggugat harus memasukkan poin mengenai status perceraian, hak pengasuhan anak, dan hak kekayaan. 

Menjalani sidang cerai

Perceraian sah hanya jika perceraian dilakukan di depan sidang pengadilan, sebagaimana tertulis pada Pasal 39 ayat (1) UU Perkawinan.

Terkait gugatan cerai, saat ini Indonesia masih menganut dualisme hukum. Jika sebelumnya mereka menikah secara Islam, maka penggugat mengajukan permohonan cerai di Pengadilan Agama. 

Sedangkan jika pihak terkait melakukan perkawinan berdasarkan agama selain Islam (non-muslim), maka gugatan cerai diajukan ke Pengadilan Negeri. 

Kehadiran pihak terkait

Pada dasarnya dalam proses sidang perceraian di Indonesia, baik pihak istri maupun suami harus hadir dalam sidang tersebut, terutama pada sidang pertama dimana Hakim berusaha memediasi atau mendamaikan kedua belah pihak. 

Namun berdasarkan Pasal 30 PP No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (PP Pelaksanaan Perkawinan), suami bisa tidak hadir dan diwakilkan oleh Kuasa Hukumnya. 

Catatan

Perceraian bukan satu-satunya solusi atas masalah pada pasangan menikah. Namun jika memang Anda sudah bertekad dan menganggap bahwa hal itu tidak bisa diperbaiki, pastikan seluruh persyaratan cerai sudah dipenuhi.

Tes Kesehatan Calon Pengantin Pria Sebelum Menikah

Premarital screening dilakukan untuk mengetahui dan mengukur kondisi sebenar-benarnya sepasang kekasih sebelum melakukan pernikahan. Tes kesehatan calon pengantin harus dilakukan oleh kedua calon mempelai, bukan salah satunya saja.

Namun, stereotip dan kebiasaan kita di sini seakan membebankan itu hanya pada pihak perempuan. tes kesehatan calon pengantin pria sebelum menikah juga penting dilakukan demi memeriksa beberapa hal terkait kesuburan dan kondisi tubuh.

Melakukan tes kesehatan calon pengantin pria sebelum menikah  perlu dilakukan agar dapat dilakukan perawatan dan pengobatan jika ternyata kemudian diketahui hal-hal yang membahayakan dan merugikan ketika nantinya sudah menikah. Terdapat pula tes kesuburan yang mana hasilnya dapat menjadi rujukan jika Anda dan pasangan berniat untuk segera ingin punya momongan.

  • Apa Saja Serangkaian Tes Kesehatan yang Dilakukan?

Tes darah

Jenis tes darah yang umumnya dilakukan sebelum menikah adalah pemeriksaan darah lengkap (complete blood count) untuk mengetahui gambaran kesehatan individu secara umum dan mendeteksi kondisi anemia, polisitemia, maupun leukemia. Selain itu, akan diperiksa juga rhesus untuk mengetahui kecocokan rhesus dan efeknya terhadap ibu dan bayi kelak.

Manusia memiliki rhesus darah positif dan negatif. Jika seorang laki-laki dan pasangannya memiliki rhesus yang berbeda maka janin bakal bayi Andalah yang akan mengalami gangguan. Ketika bayi memiliki rhesus yang berbeda dengan ibunya, maka tubuh si ibu akan mengindentifikasikannya sebagai benda asing dan akan diserang oleh sistem imun si ibu. Oleh karena itu menjalani tes darah sistem ABO/rhesus tentunya perlu untuk dilakukan.

Hasil tes ini juga menjadi indikator adanya gangguan pada organ dalam lainnya, misalnya dapat mengetahui ada tidaknya gangguan pada prostat, atau gangguan pada kelenjar tiroid, kadar gula darah sampai lemak.

Tes Penyakit Menular Seksual

Menjalani tes penyakit kelamin sebelum dan seterusnya setelah menikah adalah cara yang ideal untuk suami istri saling terbuka seputar status kesehatan mereka yang terbaru dan paling akurat.Lakukan tes penyakit menular seksual sebelum menikah karena jenis penyakit ini berpotensi mengganggu perjalanan kehidupan rumah tangga kelak. Selain itu penyakit seperti Hepatitis B dan C juga harus diwaspadai karena kegagalan fungsi hati adalah penyakit yang serius.

Pemeriksaan Urin

Tes urin lengkap juga biasanya masuk ke dalam serangkaian tes kesehatan calon pengantin. Dengan metode tes ini, penyakit metabolik atau sistemik dapat langsung diketahui. Selain itu urinalisa juga dapat dengan tepat mengetahui jika ada gangguan fungsi ginjal.

Tes Kesuburan

Masalah ketidaksuburan bukan menjadi beban yang hanya ditanggung oleh pihak perempuan. Laki-laki juga memiliki risiko yang sama besarnya terhadap hal ini. Sebuah penelitian bahkan memperkirakan 30% masalah ketidaksuburan dalam pernikahan disebabkan oleh pihak laki-laki. Tes ini meliputi pemeriksaan kualitas dan kuantitas sperma pria. Apakah cukup baik untuk membuahi sel telur atau mendeteksi kelainan lainnya. Pengambilan sampel air mani biasanya diperlukan dalam metode ini.

Volume sperma yang normal biasanya 2-5 mililiter dengan komposisi cairan cenderung kental dan tidak cair, berwarna putih agak abu-abu. Sperma sehat biasanya dalam 1 mililiter mengandung 20 juta sel sperma berbentuk normal dan bergerak cepat ke depan. Jika ditemukan sperma Anda kurang sehat maka dokter akan melakukan tes untuk mencari darimana gangguan itu berasal dengan melakukan tes USG pada skrotum dan testis.

***

Untuk melakukan tes kesehatan calon pengantin pria sebelum menikah ini dapat dilakukan di rumah sakit atau klinik laboratorium swasta. Sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum melakukan tes pra-nikah.

Tes kesehatan calon pengantin pun dapat dilakukan di puskesmas sesuai domisili calon mempelai. Biasanya, calon pasangan akan mendapat surat rekomendasi atau pengantar dari stake holder terkait.