Kenali Ruptur Uteri saat Persalinan

Ruptur Uteri adalah robeknya dinding uterus saat kehamilan atau persalinan ketika umur kehamilan lebih dari 28 minggu. Tingkat ruptur uteri di Indonesia masih cukup tinggi berkisar antara 1:9 hingga 1:428 persalinan.

ruptur uretri

Biasanya kondisi ruptur uteri ini terjadi pada ibu hamil yang mencoba persalinan normal namun pernah melakukan operasi caesar sebelumnya atau pernah melakukan operasi rahim lain sebelumnya. Ribeknya dinding rahim ini disebabkan oleh adanya pergerakan bayi melalui jalan lahir dengan memberi tekanan yang kuat pada rahim. Atau biasanya juga terjadi sebelum waktu persalinan yang timbul disepanjang bekas luka operasi sebelumnya.

Bekas luka operasi yang paling berisiko mengalami ruptur uteri adalah sayatan vertikal di bagian atas rahim. Biasanya dokter tidak menganjurkan ibu hamil melahirkan normal melalui vagina jika sebelumnya pernah operasi caesar.

Faktor yang Meningkatkan Risiko Ruptur Uteri

Selain karena faktor pernah melakukan operasi caesar, ruptur uteri bisa disebabkan oleh faktor risiko lain, yaitu:

  • Mengalami trauma rahim
  • Plasenta menempel terlalu dalam di dinding rahim
  • Sudah pernah melahirkan 5 kali atau bahkan lebih
  • Banyaknya air ketuban atau hamil bayi kembar sehingga rahim terlalu besar
  • Ukuran bayi terlalu besar bagi ukuran panggul ibu sehingga proses persalinan terlalu lama
  • Terjadinya kontraksi yang terlalu kuat dan frekuensinya sering

Tanda-tanda Mengalami Ruptur Uteri

Sebenarnya pada wanita yang belum pernah menjalani operasi caesar, ruptur uteri ini jarang terjadi. Namun, ruptur uteri atau rahim sobek adalah komplikasi serius yang berbahaya bagi keselamatan ibu dan janin.

Biasanya, tanda-tanda yang muncul saat seseorang mengalami ruptur uteri adalah:

  • Terjadi pendarahan yang berlebihan pada vagina
  • Terasa nyeri yang tidak normal atau abnormal pada perut
  • Kontraksi yang terjadi melambat atau kurang intens
  • Kekuatan otot rahim menghilang
  • Ketika proses persalinan, kepala bayi berhenti di jalan lahir
  • Di seal-sela kontraksi terasa sakit yang sangat parah
  • Pada bekas luka rahim sebelumnya terasa sakit yang tiba-tiba
  • Jantung bayi berdetak abnormal
  • Persalinan normal melalui vagina gagal
  • Detak jantung ibu menjadi cepat dan tekanan darahnya juga rendah akibat mengalami syok yang berisiko menyebabkan kematian

Cara Menangani Ruptur Uteri saat Melahirkan

Jika ketika melakukan persalinan normal dokter melihat Anda mengalami ruptur uteri, maka persalinan akan langsung dilakukan operasi caesar. Sebab, proses melahirkan normal melalui vagina tidak bisa dilanjutkan dan harus diganti segera dengan operasi caesar. Jika bayi tidak dikeluarkan dalam waktu 10-40 menit, bayi bisa meninggal karena kekurangan oksigen.

Tujuannya adalah agar mencegah risiko fatal yang akan dialami oleh ibu dan bayi. Dengan operasi caesar, kemungkinan bayi bertahan hiidup lebih besar jika diganti dengan caesar.

Lalu, setelah bayi berhasil dikeluarkan dari rahim ibu, bayi akan diberikan perawatan lanjutan seperti oksigen tambahan, misalnya.

Bila dalam kasus ini ibu mengalami pendarahan yang sangat banyak akibat rahim robek, maka dokter akan menyarankan histerektomi. Yaitu prosedur medis yang bertujuan untuk mengangkat rahim dari sistem reproduksi wanita. Oleh karena itu, pertimbangan melakukan histerektomi ini haruslah melalui persetujuan dan pertimbangan yang matang dari Anda dan pasangan.

Jika sudah menjalan prosedur ini, maka Anda tidak akan bisa hamil lagi. Anda juga tidak akan mengalami menstruasi lagi. Barulah dokter kemudian melakukan transfusi darah untuk mengganti darah yang hilang.

Untuk menghindari terjadinya ruptur uteri saat proses persalinan adalah dengan melakukan operasi caesar. Oleh karena itu penting untuk mengetahui riwayat kesehatan Anda dan periksakan kondisi kandungan secara rtuin ke dokter. Apalagi jika Anda sebelumnya pernah menjalani operasi caesar atau operasi rahim lainnya.