Ketahui Dampak Buruk Kecanduan Heroin dan Pengobatannya

Heroin merupakan zat atau obat yang berasal dari bunga, yaitu opium poppy. Bunga ini banyak tumbuh di Meksiko, Asia, dan Amerika Selatan. Sejak tahun 1924, heroin telah menjadi sesuatu yang ilegal di Amerika Serikat, karena sangat membuat ketagihan. Heroin tersedia dalam bentuk bubuk putih halus, butiran putih kasar, dan potongan-potongan kecil (batu) warna coklat.

Penyalahgunaan heroin oleh masyarakat.

Cara menggunakan heroin adalah dihirup, tapi sebagian besar, orang banyak menyuntikkan langsung heroin ke pembuluh darah. Akibatnya, pengguna heroin lebih mudah mengalami overdosis dan penyakit menular jika jarum suntik yang digunakan bekas orang lain.

Bahayanya, heroin sangat cepat mengalir ke otak, sehingga efek kecanduannya pun jadi lebih mudah. Sekali Anda menggunakan heroin, akan sulit sekali bagi Anda untuk berhenti menggunakannya lagi. Begitu heroin masuk ke tubuh, Anda akan merasakan senang dan bahagia, bahkan terasa seperti sedang berada di dalam mimpi.

Bagaimana heroin bisa mengancam jiwa Anda?

Alasan orang menggunakan heroin adalah untuk mengatasi kecemasan, kegelisahan, kekhawatiran, serta pemicu stres lainnya. Sebuah studi menunjukkan bahwa 75 persen pengguna heroin memiliki masalah kesehatan mental, seperti depresi, ADHD, atau gangguan bipolar.

Heroin bekerja dengan cara menghambat sinyal rasa sakit di otak, sehingga Anda tidak akan merasa sakit begitu mengonsumsinya. Tidak hanya itu, heroin juga dapat memperlambat detak jantung dan laju pernapasan. Apabila overdosis, Anda mungkin mengalami henti jantung, henti napas, dan kematian. Sebagian kasus kematian ini juga terjadi karena heroin yang dicampur dengan obat lain, seperti fentanyl (obat penghilang rasa sakit yang kuat).

Efek heroin di dalam tubuh.

Anda mungkin akan mengalami efek di bawah ini yang akan berlangsung selama 3 – 5 jam.

  • Kesenangan dan rasa nyeri mereda.
  • Relaksasi, kantuk, dan merasa canggung.
  • Kebingungan.
  • Bicara cadel dan lambat.
  • Pernapasan dan detak jantung lambat.
  • Mulut kering.
  • Nafsu makan berkurang dan muntah.
  • Penurunan gairah seks.

Jika heroin dikonsumsi dengan cara menyuntikkan ke pembuluh darah, maka dapat meningkatkan risiko tetanus, infeksi, dan kerusakan vena. Jika jarum suntik yang digunakan milik bersama, maka berisiko tinggi terkena penyakit menular, seperti hepatitis B, hepatitis C, dan HIV/AIDS.

Adapun penggunaan heroin dalam jangka panjang dapat menyebabkan:

  • Kerusakan pembuluh darah.
  • Insomnia.
  • Infeksi pada jantung.
  • Infeksi kulit, seperti abses dan selulitis.
  • Penyakit hati dan ginjal.
  • Gangguan mental.
  • Penyakit paru-paru, seperti pneumonia dan tuberkulosis.
  • Masalah menstruasi dan keguguran.

Ini dampak kecanduan heroin dan efek penghentiannya.

Penggunaan heroin akan sangat membuat Anda ketagihan. Tubuh Anda akan memberikan toleransi yang tinggi terhadap heroin jika dikonsumsi secara terus-menerus. Akibatnya, muncul efek ketergantungan karena tubuh perlu lebih banyak lagi heroin untuk mencapai kadar yang sama dengan sebelumnya.

Ketika Anda berhenti mengonsumsinya, maka siap-siap Anda akan mengalami gejala putus obat (withdrawl syndrome), meliputi:

  • Kegelisahan.
  • Panas dingin.
  • Muntah dan diare.
  • Nyeri tulang dan otot.
  • Kesulitan tidur.
  • Keringat dingin.
  • Gerakan kaki yang tidak dapat dikendalikan.

Bagaimana pengobatan kecanduan heroin?

Umumnya, orang-orang yang mengalami kecanduan berat terhadap heroin akan mendapatkan perawatan, berupa pengobatan dan terapi perilaku. Menurut para ahli, perawatan dengan pengobatan adalah langkah awal untuk menangani orang-orang yang kecanduan heroin.

Pengobatan dapat membantu tubuh lebih mudah terbiasa tanpa heroin dan mengurangi keinginan untuk mengonsumsi heroin lagi. Heroin adalah bagian dari kelompok obat yang dikenal sebagai opioid. Obat ini akan berinteraksi dengan reseptor opioid di otak, sehingga menimbulkan perasaan pereda nyeri, relaksasi, kesenangan dan kepuasan.

Umumnya, pengobatan yang diberikan adalah buprenorfin dan metadon. Kedua obat ini bekerja dengan cara mengikat sel-sel reseptor opioid di otak, sehingga respons tubuh terhadap heroin perlahan berkurang.

Kemudian, terapi perilaku mencakup dua jenis, yaitu terapi perilaku kognitif dan manajemen kontingensi. Terapi perilaku kognitif bertujuan membantu Anda mengubah ekspetasi dan perilaku terkait penggunaan narkoba. Terapi ini akan membantu Anda mengelola dan mengatasi stres dengan lebih baik, sehingga tidak mudah beralih menggunakan heroin lagi.

Adapun manajemen kontingensi adalah memberikan insentif motivasi, seperti voucher atau uang tunai untuk perilaku positif, seperti tetap bebas narkoba. Terapi perilaku ini juga sangat efektif bila digunakan bersama dengan obat-obatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *