Mengenal Jenis Injeksi Intravena dan Teman-temannya

Pemberian obat lewat metode injeksi kerap menjadi pilihan guna menangani pasien yang berstatus gawat darurat, contohnya pasien dengan kondisi penyakit jantung ataupun asma. Pemberian obat lewat injeksi diyakini mampu berkhasiat lebih cepat karena obat langsung masuk ke tubuh dan terserap dengan baik. Ini berbeda dengan pemberian obat dengan metode oral yang membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa menghasilkan khasiat yang dibutuhkan.

injeksi intervena

Pemasukan obat melalui injeksi sebenarnya terbagi-bagi lagi menjadi beberapa jenis. Salah satunya adalah injeksi intravena. Perbedaan metode injeksi ini didasarkan pada letak penusukan jarum untuk memasukkan obat.

Berikut ini adalah empat jenis injeksi yang umum digunakan oleh dunia kedokteran. Masing-masing memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing.

Injeksi Intravena

Injeksi intravena adalah pemasukan obat ke dalam tubuh lewat penyisipan jarum secara langsung ke dalam pembuluh darah vena. Model injeksi ini diklaim memiliki kemampuan mengeluarkan khasiat obat paling cepat karena obat langsung masuk dalam sirkulasi darah.

Jenis injeksi intravena sendiri dibagi menjadi dua tipe besar. Tipe pertama adalah injeksi intravena standar. Biasanya pemasukan obat lewat tipe pertama ini ditujukan pada pasien-pasien yang membutuhkan penanganan dalam jangka pendek. Injeksi intravena standar sendiri dibagi lagi menjadi dua berdasarkan alat pemasukannya, yaitu suntikan intravena serta infus intravena.

Tipe kedua disebut sebagai kateter vena sentral. Model ini digunakan untuk pengobatan jangka panjang, seperti pada pasien yang habis melakukan kemoterapi. Kateter vena sentra terbagi lagi menjadi tiga jenis, yaitu peripherally inserted central catheter, tunneled catheter, dan implanted port.

Injeksi Intramuskular

Injeksi intravena mengirimkan obat ke dalam tubuh lewat pemasukan ke pembuluh darah vena. Sementara itu, injeksi intramuskular merupakan jenis injeksi yang proses pemasukannya memanfaatkan otot tubuh yang mengandung banyak pembuluh darah.

Injeksi intramuskular lebih banyak digunakan untuk pemberian vaksin yang tidak aktif. Contohnya adalah vaksin influenza. Pemberian obat menggunakan metode intramuskular diklaim memberi rasa nyaman ketika proses pemasukannya sekaligus dapat lebih cepat mengedarkan obat di dalam darah.

Dalam melakukan injeksi intravena, biasa dilakukan dengan peralatan jarum suntik 5—10 milimeter. Ada pula pemberian injeksi intravena dengan jarum 6—8 milimeter jika jenis cairan yang dimasukkan berbasis minyak.

Injeksi Intradermal

Jenis injeksi yang satu ini jarang digunakan untuk pemasukan obat ke dalam tubuh, seperti yang terjadi pada injeksi intravena ataupun injeksi intramuscular. Injeksi intradermal lebih ditujukan untuk pengetesan sensitivitas kulit, seperti tes alergi, anestesi, ataupun tuberkulin.

Pada injeksi intradermal, cairan penmgetesan akan dikirim langsung ke bagian lapisan yang berada di bawah epidermin kulit. Diharapkan dengan demikian, reaksi yan diharapkan bisa mudah terlihat. Umumnya punggung bawah dan lengan bawah menjadi lokasi tindakan injeksi intradermal.

Dibandingkan jenis injeksi lain, injeksi intradermal memerlukan penyerapan paling lama. Untuk melakukan metode injeksi ini, tim medis umumnya menggunakan jarum pendek dengan panjang 1—1,5 sentimeter.

Injeksi Subkutan

Injeksi subkutan bisa dibilang lebih mudah dilakukan oleh orang awam. Pasalnya, proses injeksi hanya dilakukan pada jaringan antara kulit dan otot. Lokasi pemberian injeksi ini umumnya mencari jaringan lemak, entah di belakang lengan atau bagian perut.

Jenis injeksi ini umumnya dilakukan menggunakan jarum suntik kecil dan halus dengan panjang di kisaran 1,5—2 sentimer. Ukuran spuit pun untuk melakukan injeksi subkutan tidak boleh melebihi 2,5 milimeter.

Karena pemasukan hanya berada di belakang jaringan lemak, obat yang dimasukkan dengan metode injeksi subkutan cenderung berproses lebih lama untuk bisa mengeluarkan khasiat. Karena itu pulalah, injeksi subkutan umumnya lebih ditujukan untuk pemberian suntikan insulin dibandingkan obat untuk pasien-pasien gawat darurat.

***

Dari keempat jenis injeksi di atas, injeksi intravena memang masih menjadi yang terpopuler di kalangan paramedis. Namun demikian, ketiga jenis injeksi lainnya juga berperan penting dalam proses pemasukan obat sesuai kebutuhan dan karakteristik yang dibutuhkan pasien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *