Perbedaan Osteopenia dengan Osteoporosis

Jika berbicara mengenai penyakit atau gangguan kesehatan terkait tulang, mungkin kamu sudah familiar dengan istilah osteoporosis. Tapi bagaimana dengan osteopenia?

Kedua kondisi ini memang sama-sama bisa membuat tulang lebih lemah dan rentan mengalami beberapa kondisi seperti patah tulang atau perubahan postur tubuh menjadi bungkuk.

Tapi sebenarnya kedua kondisi ini memiliki beberapa perbedaan. Keduanya juga membutuhkan penanganan dan tindakan yang berbeda. Lalu, apa saja sih perbedaannya? Simak rangkumannya di artikel berikut ini ya!

Definisi

Untuk mengetahui perbedaannya, kita pahami dulu definisi dari kedua istilah ini. Osteopenia adalah kondisi penipisan massa tulang. Ini bukanlah penyakit, dan umumnya tidak dianggap sebagai kondisi parah.

Namun massa tulang yang rendah bisa menjadi faktor risiko osteoporosis. Osteoporosis adalah penyakit tulang rapuh yang ditandai dengan hilangnya massa tulang. Penyebabnya mulai dari kekurangan kalsium vitamin D, magnesium, serta vitamin dan mineral lainnya. 

Apabila tidak ditangani, osteoporosis dapat menyebabkan banyak masalah, Mulai dari penurunan tinggi badan, punggung bungkuk, dan nyeri hebat. Penipisan massa tulang biasanya mulai terjadi pada orang di atas usia 35 tahun.

Jadi sebenarnya kedua kondisi ini saling terkait satu sama lain. Osteoporosis adalah perkembangan yang lebih serius dari osteopenia. Saat kepadatan tulang menurun, struktur seperti sarang lebah di dalam tulang menjadi lebih keropos. 

Diagnosis

Kedua kondisi ini bisa diketahui melalui tes kepadatan mineral tulang atau BMD (Bone Mineral Density). Tes BMD dapat mengukur tingkat mineral seperti kalsium di tulang kamu.

Metode yang digunakan adalah Dual Energy X-ray Absorptiometry atau DEXA. Pemindaian ini dilakukan menggunakan sinar-x berenergi rendah dengan radiasi yang jauh lebih sedikit daripada sinar-x standar.

Dari sini dokter dapat menilai kadar kalsium dalam tulang kamu. Hasilnya diukur sebagai “skor” dan dibandingkan dengan individu yang sehat.

Kamu dikatakan memiliki osteopenia apabila mendapatkan skor yang lebih rendah dari normal yakni antara -1 dan -2,5. Sementara kamu dikatakan mengalami osteoporosis apabila mendapat skor lebih rendah dari -2,5.

Faktor risiko

Tidak semua orang akan mengalami salah satu atau kedua kondisi ini. Namun, apabila kamu memiliki beberapa faktor di bawah ini, maka risiko kemungkinannya lebih besar:

  • Jenis kelamin: perempuan memiliki risiko lebih besar ketimbang pria. Ini terjadi karena perempuan punya massa tulang yang lebih rendah. Selain itu massa tulang juga bisa menurun saat menopause dan produksi hormon estrogen berkurang.
  • Ras: perempuan dari ras Asia dan Kaukasia, utamanya mereka yang bertulang kecil berisiko tinggi mengalami penipisan massa tulang
  • Gen: jika kamu memiliki keluarga dengan riwayat penyakit ini maka kamu 50-85 persen lebih berisiko mengalaminya di masa depan
  • Usia: orang berusia di atas 50 tahun memiliki risiko lebih tinggi
  • Gaya hidup: pola makan yang rendah kalsium dan vitamin D, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol dan kafein berlebih, serta kebiasaan kurangnya aktivitas fisik bisa berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit ini
  • Kondisi medis: beberapa penyakit seperti hiperparatiroidisme, hipertiroidisme, dan sindrom Cushing, dapat menyebabkan keropos tulang
  • Penggunaan obat tertentu: seperti obat prednison atau fenitoin juga bisa picu pengeroposan tulang

Untuk mencegah penipisan massa tulang kamu harus mulai dengan perbaikan gaya hidup. Mulai dari pola makan tinggi vitamin D dan kalsium, serta rutin berolahraga.

Selain itu, hindari semua faktor risiko yang memang bisa kamu kontrol, dan lakukan tes BMD sedini mungkin. Itu dia rangkuman soal perbedaan osteopenia dan osteoporosis. Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *