Benarkah Produk Bebas Methylparaben Aman? Cek Faktanya!

Methylparaben (metilparaben) termasuk ke dalam jenis paraben, pengawet yang banyak ditemukan dalam produk kosmetik, produk makanan, dan obat-obatan.

Paraben sendiri berasal dari senyawa asam para-hydroxybenzoic (PHBA) yang terdapat secara alami di buah dan sayuran, seperti mentimun, ceri, wortel, dan bawang.

Paraben berguna dalam menjaga kualitas dan memperpanjang umur simpan suatu produk dengan mencegah produk dari terkontaminasi jamur, bakteri, dan ragi.

Beberapa tahun belakangan, paraben dikatakan memiliki dampak buruk bagi kesehatan dan dapat memicu kanker. Hal ini menjadikan banyak orang terutama wanita mencari produk bebas paraben.

Namun apakah produk yang bebas dari paraben benar-benar aman? Berikut alternatif pengganti methylparaben beserta masing-masing efek sampingnya.

  • Pelepas formaldehida

Pengawet pelepas formaldehida merupakan salah satu alternatif pengganti methylparaben. Formaldehida umum digunakan untuk membalsem mayat, dan sangat ampuh menjaga kualitas suatu produk.

Sayangnya, formaldehida termasuk senyawa beracun dan dapat memicu kanker (karsinogenik). Selain itu formaldehida lebih mengiritasi kulit.

Mengganti paraben dengan pelepas formaldehida mungkin bukan pilihan yang aman.

Pengawet pelepas formaldehida memiliki nama lain diantaranya:

  • 2-bromo-2-nitropropane-1,3-diol
  • Diazolidinyl urea
  • DMDM hydantoin
  • Hydroxymethylglycinate
  • Imidazolidinyl urea
  • Quaternium-15
  • Trishydroxymethylnitromethane
  • MCI dan MTI

Methylchloroisothiazolinone (MCI) dan Methylisothiazolinone (MIT) merupakan dua pengawet yang sangat kuat yang memiliki sifat antibakteri dan antijamur.

Tak berbeda jauh dengan paraben, MCI dan MTI dapat menyebabkan iritasi dan alergi. Bagi pemilik kulit sensitif, ada baiknya untuk mempertimbangkan kembali produk dengan dua pengawet ini.

  • Asam organik

Kelompok asam organik terdiri dari asam sorbat, asam benzoat, dan asam salisilat. Kebanyakan asam organik didapatkan secara alami, misalnya asam salisilat yang diekstrasi dari kulit pohon willow.

Asam organik hanya memiliki sifat antijamur sehingga tidak mampu mencegah kontaminasi produk dari bakteri. Selain itu, asam benzoat merupakan sumber paraben.

  • Natrium benzoat

Natrium benzoat atau dikenal juga dengan sodium benzoat semakin populer digunakan sebagai alternatif pengganti methylparaben. Namun senyawa ini tidak begitu ampuh melawan perkembangan bakteri.

Ketika natrium benzoat dikombinasikan dengan produk yang mengandung vitamin C dosis rendah akan membentuk senyawa baru yang disebut benzena. Benzena bersifat karsinogenik atau memicu perkembangan sel kanker dalam tubuh.

Mungkin natrium benzoat bisa dijadikan pilihan, namun pastikan untuk tidak menggabungkannya dengan produk bervitamin C.

  • Kalium sorbat

Kalium sorbat atau potasium sorbat dapat ditemukan secara alami. Namun kebanyakan produk kosmetik menggunakan kalium sorbat versi sintetis.

Kalium sorbat sangat ampuh melawan jamur, namun senyawa ini kurang berfungsi efektif bila digunakan secara tunggal. Kalium sorbat juga tidak terlalu stabil sehingga bila produk kosmetik telah dibuka, Anda harus segera menghabiskannya.

Selain itu potasium sorbat terbukti dapat menurunkan kekebalan tubuh serta meracuni DNA.

  • Phenoxyethanol

Phenoxyethanol termasuk pengawet jenis baru dan langsung populer sebagai pengganti paraben. Phenoxyethanol efektif sebagai antibakteri dan diklaim aman untuk bayi.

Sayangnya terdapat kontradiksi yang ditemukan dalam beberapa penelitian. Phenoxyethanol disebut sebagai pengawet paling lembut, namun pengawet ini juga dapat menyebabkan reaksi alergi dan iritasi.

Klaim phenoxyethanol aman untuk bayi juga diperdebatkan karena pada beberapa kasus senyawa ini memicu reaksi kulit yang buruk dan interaksi sistem saraf pada bayi.

Pada kasus yang jarang terjadi, phenoxyethanol juga dapat memicu anafilaksis (reaksi alergi yang mengancam jiwa).

Catatan

Penggunaan methylparaben dan jenis paraben lain dalam suatu produk telah diatur secara ketat oleh berbagai komite ilmiah seperti Scientific Committee on Consumer Safety (SCCS), komite ilmiah yang paling ketat dari Komisi Eropa, dan FDA.

Penggunaan paraben sesuai dosis yang dianjurkan aman dan tidak membahayakan. Methylparaben juga tidak menumpuk dalam tubuh. Adapun hingga saat ini belum ditemukan hubungan kuat antara methylparaben dengan risiko kanker.

Jika Anda tetap ingin menggunakan produk bebas paraben, perhatikan dosis pengawet yang terkandung dalam produk tersebut. Sama halnya seperti paraben, alternatif paraben mungkin menghasilkan efek samping yang sama.