Cara Mendeteksi Secara Mandiri Benjolan di Belakang Telinga

benjolan di belakang telinga

Benjolan di belakang telinga bisa disebabkan oleh banyak hal, namun umumnya terjadi karena abses atau kista sebasea. Abses adalah infeksi dinding di jaringan area tubuh tertentu. Kondisi ini harus mendapatkan penanganan dari dokter dan dapat disembuhkan dengan mengonsumsi antibiotik. Kista sebasea terjadi ketika komponen epitel yang menghasilkan keratin terperangkap di bawah kulit, membentuk kista yang diisi dengan nanah berwarna kuning keputihan.

Seringkali, infeksi yang melibatkan telinga atau sinus dapat menyebabkan benjolan di belakang telinga atau pembengkakan kelenjar getah bening. Pembengkakan tersebut bisa terjadi akibat adanya virus dan infeksi bakteri. Sebagian besar infeksi ini dapat merespons antibiotik atau pengobatan, sehingga masih tergolong aman, dengan catatan ukurannya kurang dari dua sentimeter.

Anda dapat melakukan pemeriksaan mandiri di rumah untuk mengecek ada tidaknya benjolan di belakang telinga dengan cara berikut ini.

Meraba telinga

Tangan menjadi media pengecekan yang paling mudah dan bisa Anda lakukan secara berkala setiap harinya. Gunakan tangan Anda untuk meraba di sekitar telinga untuk membantu menentukan kemungkinan benjolan tersebut. Sentuh belakang telinga dengan lembut, supaya benar-benar bisa merasakan ada tidaknya perbedaan antara telinga satu dengan lainnya.

Apabila benjolan di belakang telinga terasa lembut, maka kondisi ini mungkin terjadi karena adanya lipoma atau kanker jinak. Lipoma adalah gumpalan jaringan lemak yang jarang terjadi. Benjolan di belakang atau di sekitar telinga juga bisa terjadi akibat adanya tumor yang melibatkan kelenjar parotis. Sebagian besar bersifat jinak, meskipun sekitar 20% bersifat ganas. Kanker tersebut umumnya muncul tepat di bawah telinga atau di depan telinga.

Cobalah untuk menekannya

Menurut dokter THT Timothy Kelly, MD, setelah melakukan perabaan disekitar telinga, Anda juga bisa mencoba untuk menekannya. Jika benjolan di belakang telinga terasa lunak atau nyeri, kemungkinan besar itu adalah infeksi, baik kelenjar getah bening yang meradang atau abses. 

Penyakit tersebut ditandai dengan beberapa gejala, seperti demam atau menggigil hingga meningkatkan kekhawatiran infeksi. Kalau sudah seperti ini, sebaiknya segera menemui dokter. Terutama jika benjolan tetap ada atau memiliki karakteristik yang mengkhawatirkan. Segera ke dokter jika mengalami hal ini.

Kapan harus ke dokter

Jika benjolan bermasalah hingga menyebabkan rasa sakit atau ketidaknyamanan buatlah janji dengan dokter. Pemeriksaan fisik cepat pada area tersebut dan pemeriksaan umum biasanya dapat membantu dokter mengetahui dengan tepat apa yang terjadi di belakang telinga.

Dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter jika benjolan muncul secara tiba-tiba, tidak bergerak saat disentuh, berlangsung lama, atau menunjukkan tanda dan gejala lain seperti:

Nyeri dan kemerahan, peningkatan ukuran, melepaskan nanah atau cairan lain, kesulitan menggerakkan kepala atau leher hingga kesulitan menelan. Dalam kasus ini, dokter dapat memeriksa benjolan berdasarkan penampilan dan reaksinya saat disentuh, serta menilai gejala lain seperti demam dan menggigil, yang mungkin mengindikasikan adanya infeksi. Jika benjolan tersebut terasa nyeri, itu mungkin merupakan tanda abses atau jerawat.

Berdasarkan apa yang ditemukan dokter, mereka mungkin menyarankan untuk membiarkan benjolan sembuh dengan sendirinya. Namun, jika sudah parah, Anda harus melalui beberapa rangkaian perawatan, mulai dari pengobatan menggunakan resep dokter saja hingga pembedahan untuk menghilangkan benjolan di belakang telinga. Perawatan sangat bergantung pada asal muasal benjolan, yang dapat hilang tanpa perawatan apa pun atau mungkin memerlukan antibiotik atau bahkan pembedahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *