Orang Tua, Begini Tips Memilih Sepatu Roda Anak

Banyak anak yang gemar bermain sepatu roda. Sebagai orang tua, Anda bisa membelikan sepatu roda pada anak sebagai sarana hiburan sekaligus olahraga bagi anak. Tapi, pastikan Anda memilih sepatu roda anak yang tepat agar keamanan dan keselamatan anak tetap terjaga ketika bermain. 

Ada banyak sekali jenis sepatu roda yang dijual di pasaran. Akan tetapi, tidak semuanya cocok digunakan untuk anak-anak. Oleh sebab itu, sebelum membelikan sepatu roda, pastikan Anda mencari tahu lebih dulu mengenai sepatu roda yang cocok untuk kebutuhan anak Anda. 

sepatu roda anak

Cara memilih sepatu roda anak

Supaya anak bisa mendapatkan sepatu roda yang sesuai dan aman, perhatikan beberapa hal berikut ketika akan memilih sepatu roda: 

  • Pilih yang sesuai ukuran

Ketika membeli sepatu, banyak orang tua sengaja membeli sepatu yang berukuran sedikit lebih besar untuk mengantisipasi ukuran kaki anak yang akan terus membesar dalam waktu singkat. Hal ini sebenarnya tidak masalah untuk membeli sepatu biasa, tapi tidak boleh dilakukan ketika membeli sepatu roda.

Anda harus membeli sepatu roda anak yang sesuai dengan ukuran kaki anak. Ini penting, karena sepatu roda yang terlalu besar atau terlalu kecil berpotensi membuat anak jadi tidak bisa berdiri dengan stabil ketika memakai sepatu tersebut. Akibatnya, anak malah jadi lebih mudah terjatuh dan terluka. 

Oleh sebab itu, jika ingin sepatu roda yang digunakan anak Anda tetap aman, pastikan Anda membeli sepatu roda yang sesuai dengan ukuran kaki anak Anda. 

  • Beli juga alat keamanan tambahan

Selain membeli sepatu roda, Anda juga perlu membelikan pelengkap keamanan lainnya untuk anak Anda. Contohnya seperti helm, pelindung siku dan lutut, dan lain sebagainya.

Jadi, ketika anak bermain dengan sepatu roda, mereka juga bisa menggunakan alat keamanan tambahan untuk melindungi diri mereka dari cedera. Ada banyak toko yang menjual sepatu roda anak dalam bentuk paket, lengkap dengan helm dan pelindung lainnya. 

  • Berikan sepatu roda hanya untuk anak usia di atas 5 tahun

Pada usia 3 tahun, anak-anak sebenarnya sudah bisa berdiri dan berjalan secara seimbang. Hanya saja, mereka belum bisa menyeimbangkan tubuh dengan satu kaki. Kaki anak baru benar-benar akan menjadi seimbang dan memiliki koordinasi yang kuat saat sudah mencapai usia sekitar 5 tahun.

Oleh sebab itu, sepatu roda anak sebaiknya tidak diberikan sebelum anak Anda berusia 5 tahun. Ini penting untuk menghindari ketidakseimbangan yang memicu anak mengalami cedera saat menggunakannya. 

  • Jangan biarkan anak bermain sepatu roda sendiri

Sebagai orang tua, Anda dianjurkan untuk selalu membimbing dan menemani anak ketika bermain sepatu roda. Jangan biarkan anak bermain dengan sepatu roda sendirian, kecuali anak sudah sangat ahli dalam menggunakannya dan sudah berusia lebih besar. 

Saat baru membelikan sepatu roda, Anda harus mengajarkan cara penggunaannya dengan benar pada anak. Pemakaian awal mungkin akan terasa sulit bagi anak, dan Anda perlu terus memberikan bimbingan sampai anak sudah benar-benar bisa bergerak sendiri dengan sepatu rodanya. 

Itulah beberapa hal yang perlu Anda perhatikan ketika akan memberikan sepatu roda pada anak. Tidak perlu khawatir bila anak mengalami cedera saat berlatih, karena itu merupakan hal yang sangat wajar jika anak baru belajar memakai sepatu roda anak pertama kalinya.

4 Terapi untuk Cara Mengatasi Kenakalan Remaja

Bagaimana cara yang tepat untuk mengatasi kenakalan remaja? Selain melalui intervensi dengan melibatkan peran orang tua dan pihak-pihak sekitar seperti ketua RT/RW, guru, dan tokoh agama, cara mengatasi juga dapat dengan berbagai macam terapi.

Tercatat ada 4 terapi yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan anak muda yang sebenarnya mereka sangat membutuhkan perhatian dari orang-orang sekitar terutama orang tua.

Mereka bertindak nakal dan kriminal akibat permasalahan internal dalam keluarga yang sering terjadi, dan bahkan membuat mereka diacuhkan.

Selain itu, masalah perisakan menjadi faktor yang turut menyebabkan kenakalan remaja, yang jika dibiarkan akan menjadi sesuatu yang sangat mengkhawatirkan, dan menyasar pada orang lain yang tidak tahu apa-apa.

Lalu apa saja terapi-terapi untuk bisa mengatasi kenalan ini?

Cara Mengatasi Kenakalan Remaja dengan Terapi

1. Cognitive-Behavioural Therapy (CBT)

Ini adalah terapi yang paling diakui dapat mengatasi kenakalan remaja. CBT adalah terapi wicara yang dapat membantu remaja yang nakal untuk mengatasi masalah berpikir dengan mengubah cara berpikir dan berperilaku.

Terapi ini biasanya digunakan pada orang-orang yang mengalami depresi dan kecemasan, namun juga berguna untuk masalah kesehatan mental lainnya yang berkaitan dengan kenakalan remaja.

Dalam terapi ini para remaja yang nakal akan dipaparkan konsep-konsep yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu pikiran, perasaan, dan tindakan.

Terapi ini sendiri lebih berfokus pada masa kini daripada masa lalu seperti terapi-terapi wicara lainnya sehingga membuat yang diterapi bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi, dengan mengubah hal negatif menjadi positif.

2. Dialectical Behavioural Therapy (DBT)

DBT adalah terapi wicara yang dikembangkan dari CBT. Terapi ini bertujuan mengajarkan orang untuk menjalani kehidupan dengan baik dan benar melalui cara menjalani gaya hidup sehat untuk mengatasi stres, mengontrol emosi, dan meningkatkan hubungan yang baik dengan orang lain.

Terapi ini awalnya ditujukan bagi penderita gangguan mental kepribadian ambang atau BPD. Namun seiring berjalannya waktu terapi ini ditujukan bagi orang-orang yang mempunyai kecenderungan tidak bisa mengatur emosi dan melukai diri sendiri.

Terapi ini menggunakan teknik psikoterapi melalui 3 cara, yaitu terapi kelompok untuk mengajari pasien keterampilan berperilaku dalam kelompok.

Terapi individu yang mengajarkan pasien untuk bisa menghadapi tantangan dalam kehidupan pribadi, dan pelatihan melalui telepon bagi pasien untuk menghubungi terapis saat sesi berlangsung untuk menerima panduan menjalani hidup yang baik.

3. Multisystemic Therapy (MST)

Terapi lainnya yang digunakan sebagai cara mengatasi kenakalan remaja adalah MST. Ini adalah terapi intensif berbasis keluarga dan komunitas untuk para remaja yang terlibat dalam kenakalan serius akibat obat-obatan terlarang dan masalah pada keluarga.

MST digunakan untuk mengurangi perilaku-perilaku nakal para remaja saat mereka berada di luar rumah.

Cara kerja terapi ini adalah dengan menggunakan 3 cara, yaitu:

  • Integrasi melalui pendekatan empiris untuk mengatasi berbagai faktor risiko penyebab kenakalan seperti keluarga, teman, sekolah, dan masyarakat.
  • Promosi untuk mengubah perilaku remaja pada lingkungan alaminya dengan memberdayakan para pengasuh dari masyarakat
  • Mekanisme jaminan perilaku untuk fokus pada pencapaian melalui ketepatan pengobatan dan pengembangan strategi untuk mengatasi hambatan perubahan perilaku pada remaja

4. Functional Family Therapy (FFT)

FFT adalah terapi yang melibatkan keluarga secara empiris untuk bisa berperan mengurangi kenakalan remaja.

Terapi ini mempunyai fokus pada komunikasi dan dukungan keluarga terhadap remaja supaya mereka tidak terjerumus pada hal-hal yang negatif.

Terapi ini juga lebih kepada penurunan faktor risiko penyebab kenakalan. Cara kerja terapi untuk mengatasi masalah kenakalan pada remaja ini melalui 4 tahapan, yaitu impresi, motivasi, perubahan perilaku, dan generalisasi.

Olah MPASI Daging Sapi dengan Benar Agar Tetap Bermanfaat dan Bernutrisi

Saat bayi memasuki usia 8 bulan, tubuhnya telah membutuhkan asupan selain Air Susu Ibu (ASI). Pada usia tersebut, Anda telah dapat mulai memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) untuk bayi. MPASI daging sapi cukup direkomendasikan sebab kandungan nutrisinya yang lengkap seperti vitamin, zat besi, kalsium, protein, kalori, dan lainnya. Lalu, hal apa yang perlu diperhatikan ketika mengolah MPASI daging sapi? Berikut penjelasan lengkapnya.

MPASI daging sapi mengandung protein dan zinc yang baik untuk bayi

Tips mengolah MPASI daging sapi 

Cara mengolah MPASI perlu dilakukan dengan benar agar bayi tidak kesulitan ketika makan dan nutrisinya pun tetap terjaga. Dalam mengolah daging sapi khususnya untuk MPASI, Anda perlu memperhatikan beberapa hal seperti berikut ini.  

  • Pilih daging berkualitas

Untuk membuat MPASI daging sapi pastikan Anda menggunakan bahan yang berkualitas. Gunakan daging sapi segar terutama yang baru dipotong. Tandai dengan memperhatikan warna daging ketika membeli. Daging segar berwarna kemerahan dan bersih. Pilih bagian yang tidak berlemak agar lebih mudah dicerna oleh bayi. 

  • Perhatikan tekstur daging 

Tekstur daging sapi merupakan hal penting saat mengolahnya menjadi MPASI. Perhatikan usia bayi sebab tekstur yang dapat diberikan juga berbeda. Pada usia 6-12 bulan, sebaiknya berikan MPASI daging sapi puree dengan tekstur lembut. Setelah usia 12 bulan, Anda dapat memberikan tekstur yang lebih kasar seperti muffin kukus. Bayi akan mulai dapat memakan daging sapi seperti orang dewasa setelah usia 2 tahun. 

  • Perhatikan cara memasak

Cara memasak MPASI daging sapi tidak bisa sembarangan. Daging sapi termasuk makanan yang sulit dicerna sehingga jika cara memasaknya kurang tepat bisa membuat bayi kesulitan saat makan. Selain itu, daging sapi untuk orang dewasa dapat diolah dengan berbagai cara. Sedangkan untuk MPASI, Anda sebaiknya menghindari menggoreng atau membakar daging sapi. Anda lebih disarankan untuk merebus, mengukus, memanggang, atau memasak daging sapi menggunakan slow cooker. Agar mudah memasak daging sapi untuk MPASI, potong daging hingga berukuran kecil.

  • Hindari daging olahan 

Daging sapi yang digunakan untuk MPASI sebaiknya daging segar, bahkan jika memungkinkan berikan daging organik dengan kualitas tinggi. Hindari menggunakan daging olahan sebab terdapat kandungan garam, pengawet, perasa buatan, dan bahan lain yang kurang baik untuk kesehatan bayi. Berbagai daging olahan yang sebaiknya dihindari tersebut seperti sosis atau kornet. 

  • Simpan daging secara tepat

Sisa daging yang belum dimasak perlu disimpan secara tepat sebab hal tersebut berpengaruh pada nutrisinya. Untuk menyimpan daging, sebaiknya Anda meletakkannya ke dalam freezer atau kulkas agar tidak terjadi pembusukan. Catat tanggal daging kadaluarsa agar Anda memakannya sebelum tanggal tersebut. 

Manfaat MPASI daging sapi 

Bahan untuk membuat MPASI sebenarnya cukup beragam. Anda dapat menggunakan daging ayam, ikan, serta aneka sayuran. Akan tetapi, MPASI daging sapi memberikan berbagai manfaat bagi bayi seperti: 

  • Sumber energi bagi bayi.
  • Menjaga daya tahan tubuh sehingga mengurangi risiko bayi terkena diare, malaria, dan pneumonia.  
  • Menjaga kesehatan tulang dan gigi karena kandungan mineral pada daging sapi seperti magnesium, kalsium, dan fosfor. 
  • Menambah berat badan bayi karena adanya kandungan zinc pada daging sapi. 
  • Meningkatkan kecerdasan dengan adanya beberapa nutrisi pada daging sapi seperti kolin, zat besi, vitamin B12, dan vitamin B6. 

Itulah berbagai manfaat serta cara mengolah MPASI daging sapi yang tepat. Pengolahan yang tepat akan membuat nutrisi pada daging tetap terjaga sehingga dapat terserap maksimal oleh bayi. Meski menyehatkan, Anda juga dapat mengganti menu MPASI secara rutin agar bayi tidak bosan. Memberikan makanan yang beragam juga penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Apabila Anda ingin berkonsultasi lebih lanjut mengenai MPASI daging sapi atau kesehatan bayi secara umum, tanyakan langsung pada dokter melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Unduh aplikasi SehatQ sekarang juga di App Store atau Google Play. 

Yang Perlu Diketahui Mengenai Hak Asuh Anak di Indonesia

Pembagian hak asuh anak ditentukan oleh undang-undang dan pertimbangan tertentu

Mengasuh anak secara bersama-sama antara suami dan istri memang menjadi keinginan tiap orang. Namun dalam suatu kasus misalnya perceraian, hak asuh anak kerap menjadi perdebatan karena menjadi objek rebutan bagi pasangan yang bercerai. 

Guna meminimalkan kondisi perebutan hak asuh anak bagi pasangan yang bercerai, berbagai aturan pun dibuat. Ditetapkan pula syarat-syarat pengasuhan anak yang kedua orang tuanya telah bercerai. Tidak terkecuali di Indonesia, ada aturan khusus yang merumuskan mengenai masalah hak asuh ini. 

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diketahui mengenai hak asuh anak di Indonesia. Beberapa hal ini dibuat dan diatur guna mencegah adanya ketidak pemenuhan kebutuhan anak pasca kedua orang tuanya bercerai. 

  • Diatur dalam Undang-Undang 

Pengaturan mengenai hak asuh anak dibuat tidak main-main. Bahkan perihal hak asuh ini, negara menubuatkannya dalam undang-undang. Adalah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak serta Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang menjadi sumber rujukan utama dalam masalah pengasuhan anak dalam keluarga. 

Pencantuman masalah hak asuh dibuat guna melindungi masa depan anak yang orang tuanya bercerai. Dengan adanya ketetapan mengenai hak asuh, diharapkan pemeliharaan dan pendidikan anak tidak terganggu, meskipun ayah dan ibunya sudah berpisah. 

  • Ibu Sebagai Pengasuh

Dalam aturan negara, ibu menjadi pihak terkuat yang berhak memperoleh hak asuh anak. Khususnya bagi anak yang berusia 12 tahun ke bawah, umumnya memang hak asuh akan jatuh ke tangan ibu setelah proses perceraian selesai. 

Akan tetapi untuk anak yang sudah melewati usia 12 tahun ke atas, pilihannya menjadi lebih ragam. Anak dinilai sudah mampu menentukan pilihannya. Sang anak juga berhak mengeluarkan keinginannya untuk diasuh oleh siapa, ayah atau ibunya. Jika sang anak memilih ayahnya untuk memelihara dia, hak asuh anak akan jatuh ke tangan suami. Namun jika sebaliknya, hak asuh anak akan jatuh ke tangan istri sesuai dengan undang-undang. 

  • Ayah Sebagai Penafkah

Hak asuh anak bisa jadi jatuh kepada ibu. Tetapi, peran ayah tidak berhenti sampai di sana. Dalam aturan undang-undang, ayah tetap berperan dalam tumbuh kembang anak, khususnya terkait masalah finansial. 

Ayah memiliki kewajiban tetap memberikan nafkah bagi anak-anak yang sudah diasuh oleh mantan istrinya. Ayah diwajibkan memenuhi berbagai kebutuhan sang anak, khususnya terkait biaya hidup dan biaya pendidikan anak hingga dewasa. Dengan jatuhnya hak asuh anak ke tangan ibu, bukan berarti pula peran ayah untuk memelihara sang anak ditiadakan. Selain finansial, sang ayah juga masih diizinkan menjalankan pengasuhan anak untuk kebaikan tumbuh kembang sang anak. 

  • Bergantung Pengadilan 

Undang-undang memang sudah mencantumkan maklumat mengenai kepemilikan hak asuh anak bagi pasangan yang bercerai. Namun, aturan tersebut nyatanya masih bisa diubah oleh keputusan hakim pengadilan. 

Hakim pengadilan memiliki hak untuk menimbang risiko dan manfaat ketika hak asuh anak dijatuhkan ke salah satu pihak orang tua. Dengan pertimbangan ini pula, tidak jarang hakim membuat putusan untuk memindahkan hak asuh anak di bawah 12 tahun dari tangan ibu kepada ayahnya. Kesehatan, kondisi kejiwaan, hingga masalah finansial menjadi beberapa pertimbangannya. Keterangan saksi serta kondisi sosial juga menjadi pertimbangan kuat pengadilan dalam memutuskan hak asuh anak jatuh ke tangan siapa. 

*** 

Hak asuh anak bisa saja jatuh ke tangan suami ataupun istri. Meskipun demikian, bukan berarti putusan tersebut justru membuat pertengkaran yang justru akan merusak mental anak. Toh nyatanya meskipun hak asuh anak jatuh ke tangan salah satu pasangan, bukan berarti pasangan yang lain tidak boleh berinteraksi dengan buah hatinya. 

Ini 5 Penyebab Diare pada Bayi

Bayi yang mengalami mencret lebih dari 3 kali dalam sehari bisa disebut sedang mengalami diare. Penanganan diare pada bayi bisa disesuaikan dengan penyebabnya agar lebih efektif. Berikut ini 5 penyebab diare pada bayi yang sering terjadi.

  • Infeksi

Infeksi menjadi jadi salah satu penyebab diare pada bayi. Perlu Anda tahu, infeksi dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit. Bayi dapat mengalami infeksi akibat penularan ataupun kontak langsung dengan anak lain yang terinfeksi karena bertukar mainan ataupun barang-barang dengan anak lain. Infeksi virus rotavirus merupakan infeksi yang paling sering terjadi dalam kasus diare pada bayi. Jika karena virus, maka bayi tidak memerlukan antibiotik. Asupan cairan merupakan hal utama yang dibutuhkan untuk menjaga kebutuhan cairan bayi agar tidak mengalami dehidrasi.

  • Kebiasaan

Bayi kerap memasukan jari atau benda lain ke dalam mulut sehingga dapat menyebabkan kuman masuk ke dalam sistem pencernaan bayi. Hal ini dapat dicegah dengan memastikan lingkungan di sekitar bayi berada dalam keadaan yang bersih dan sehat. Mainan dan perlengkapan bayi pun perlengkapan bayi yang sering digunakan juga perlu diperhatikan kebersihannya. Seringkali mainan yang jatuh tidak dibersihkan terlebih dahulu dan langsung diberikan kembali pada bayi. Hal ini tentu dapat membuat bayi berisiko terkena diare.

  • Alergi

Alergi merupakan salah satu penyebab diare selain infeksi. Bayi yang alergi terhadap makanan atau obat-obatan tertentu bisa menjadi penyebab diare. Biasanya diare akibat dari alergi muncul dalam hitungan jam setelah pemberian makanan atau obat. Cara yang paling efektif untuk menghentikan diare akibat alergi adalah dengan berhenti membersihkan makanan atau obat tersebut. Jika alergi tersebut diakibatkan oleh obat, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter yang memberikan obat tersebut agar diberikan obat pengganti lainnya.

  • Jus buah

Sistem pencernaan bayi juga masih berkembang dan belum sempurna. Berbeda dengan orang dewasa, minum juga buah tertentu dapat menyehatkan. Namun, pada bayi minum terlalu banyak juga dapat menyebabkan diare.

  • Keracunan makanan

Keracunan makanan menjadi penyebab lainnya diare pada bayi. Selain diare biasanya keracunan makanan juga dapat disertai dengan muntah-muntah. Segera bawa bayi ke dokter untuk diperiksa dan ditangani lebih lanjut.

Tips Mengatasi Bayi Sering Muntah Sesudah Makan

Bayi yang lahap makan tentu akan membuat orang tua merasa senang, tapi bagaimana jika anak sering muntah setelah makan? Orang tua jelas tidak bisa menanyakan apa yang dirasakan oleh bayinya, sehingga terpaksa menebak-nebak apa yang menjadi penyebab bayi sering muntah dan apakah hal itu merupakan gejala penyakit.

Muntah termasuk dalam mekanisme proteksi tubuh karena muntah mengeluarkan apa yang dianggap tidak diperlukan tubuh atau apa dianggap berbahaya bagi tubuh. Oleh karena itu, Anda tidak perlu khawatir kita bayi sering muntah. Coba untuk cermati terlebih dahulu, apakah ia muntah sekali sampai dua kali dalam sehari, atau apakah ia tiap kali muntah setelah makan. Anda juga perlu amati, apakah bayi tetap terlihat sehat, aktif dan kenaikan berat badannya normal.

Jika bayi sering muntah tapi terlihat sehat, aktif dan normal, kemudian ia hanya kekenyangan atau ada sedikit masalah saat pemberian makan. Kemungkinan lain, sebenarnya bayi hanya gumoh. Gumoh adalah susu yang keluar bercampur sedikit asam lambung dan merupakan hal yang sering dialami bayi. Hal ini terjadi karena katup di bagian bawah kerongkongan bayi belum kuat sehingga susu di lambung mengalir balik ke kerongkongan.

Tips mengatasi bayi sering muntah atau gumoh

  • Jangan memaksa bayi menghabiskan susu atau makanannya. Jika bayi Anda termasuk yang kurang nafsu makan dan cepat kenyang, lebih baik kurangi porsi makannya tapi tambah frekuensi pemberian makan. Makan sedikit demi sedikit tapi mungkin bisa mencegah bayi sering muntah.
  • Jika bayi masih mengonsumsi ASI atau susu formula, coba susui dalam posisi bayi yang lebih tegak. Jangan lupa menyendawakan bayi tiap kali sesuai menyusu
  • Setelah memberikan setengah jam. Sadarkan ia dalam posisi duduk di kursi bayi, tapi handari penggunaan bouncy chair.
  • Sebaiknya bayi tidak langsung diajak aktif bermain setelah makan, karena gerak terlalu aktif sesaat setelah makan bisa membuatnya muntah.

Kebiasaan pemberian makan memang bisa menjadi penyebab bayi sering muntah. Tapi, Anda perlu waspada juga jika bayi muntah dan tampak lesu disertai demam atau diare. Jika kondisinya seperti tersebut, Anda perlu segera ke dokter.