Penyebab Kaki Pegal Di Malam Hari dan Pilihan Perawatan

Nyeri kaki dan pegal merupakan masalah bagi jutaan orang setiap hari, mulai dari nyeri yang tumpul dan berdenyut hingga sensasi yang tajam dan menyengat.

Bagi sebagian orang, nyeri dan penyebab kaki pegal di malam hari atau saat mereka sedang tidur. Ini dapat mengganggu tidur dan membuat sulit tidur berkualitas tinggi.

Manfaat refleksi kaki salah satunya adalah melancarkan peredaran darah

Terkena sakit kaki di malam hari?  Ada beberapa penyebab dan faktor umum serta cara terbaik untuk menangani setiap kondisi. Dalam banyak kasus, beberapa pengobatan rumahan dapat meredakan nyeri dan pegal kaki di malam hari, tetapi Anda mungkin perlu ke dokter.

Berbagai faktor dapat menyebabkan kaki lelah. Kaki yang lelah bisa disertai rasa sakit, nyeri, pegal atau kram. Kaki lelah biasanya tidak perlu dikhawatirkan, tetapi tetap penting untuk memperhatikan tubuh Anda saat kelelahan terjadi. Ini terutama terjadi jika Anda memiliki gejala lain.

Berikut beberapa kemungkinan penyebab kaki lelah:

Olahraga terlalu sedikit

Gerakan yang terbatas juga bisa menyebabkan kaki lelah. Orang yang duduk sepanjang hari atau mengambil cuti dari olahraga mungkin mengalami rasa berat di kaki mereka.

Melanjutkan aktivitas atau beristirahat untuk berdiri dan berjalan sepanjang hari dapat membantu.

Kram

Terlalu banyak olahraga atau peregangan otot yang tidak memadai dapat menyebabkan kram pada kaki. Kram dapat berkisar dari rasa sakit ringan hingga parah, dan kaki mungkin terasa lelah dan berat.

Orang dengan kram harus istirahat sampai hilang. Jika kram berlanjut atau sering terjadi, mereka harus mencari bantuan medis.

Kehamilan

Kehamilan bisa menyebabkan kaki bengkak, yang bisa membuat tidak nyaman dan menyebabkan kelelahan pada tubuh bagian bawah. Kaki bengkak adalah akibat dari:

  • retensi cairan
  • rahim yang tumbuh meningkatkan tekanan di vena
  • perubahan hormonal

Siapa pun dengan pembengkakan yang tiba-tiba atau parah selama kehamilan harus mencari pertolongan medis, karena ini mungkin merupakan tanda preeklamsia.

Sindrom kaki gelisah

Orang dengan sindrom kaki gelisah mengalami sensasi tidak nyaman pada kaki, seperti nyeri, pegal, berdenyut, dan keinginan untuk menggerakkan anggota tubuh tersebut. Kondisi penyebab kaki pegal di malam hari tersebut kerap terjadi dan mengganggu tidur.

Menggerakkan kaki dapat meredakan sementara dan mengatasi ketidaknyamanan.

Cara merawat kaki lelah di rumah

Dalam banyak kasus, Anda dapat mengobati kaki yang lelah di rumah.

1. Menyikat kering

Menyikat kering dapat membantu menstimulasi sirkulasi, meningkatkan energi, dan meningkatkan drainase limfatik. Manfaat tambahan dari menyikat kering adalah membantu pengelupasan kulit Anda.

Gunakan kuas dengan bulu alami. Mulailah dengan kaki Anda dan lanjutkan ke atas menuju jantung Anda. Lakukan ini selama 10 hingga 15 menit sebelum mandi air dingin.

2. Mandi air hangat

Berendam dalam air hangat dapat membantu Anda rileks sambil mengurangi tekanan pada kaki dan meningkatkan sirkulasi. Tambahkan hingga 2 cangkir garam laut, garam Epsom, atau soda kue. Berendamlah di bak mandi setidaknya selama 20 menit.

3. Mandi kaki

Mandi kaki dapat membantu memulihkan kaki yang lelah dengan mengurangi rasa sakit, nyeri, pegal dan pembengkakan.

Tambahkan 1 cangkir masing-masing garam Epsom, garam laut, dan cuka ke dalam bak air hangat. Rendam kaki Anda setidaknya selama 20 menit.

6. Pijat

Pijat dapat membantu meredakan kelelahan kaki. Jika memungkinkan, pesan pijat dengan terapis pijat bersertifikat. Anda juga bisa berlatih memijat sendiri dengan mengoleskan minyak atau salep ke kaki dan tungkai Anda.

Anda mungkin ingin menggunakan gel atau krim capsaicin untuk menghilangkan rasa sakit dan meningkatkan sirkulasi.

7. Latihan sederhana

Ada beberapa latihan sederhana yang bisa Anda lakukan untuk membantu meredakan kaki yang lelah dan pegal. Bahkan satu menit latihan ini bisa membuat darah Anda mengalir.

  • Cobalah menggelindingkan bola tenis di bawah kaki Anda saat Anda duduk.
  • Putar pergelangan kaki Anda searah jarum jam, satu per satu. Bayangkan Anda sedang menggambar lingkaran di lantai. Anda dapat melakukannya sambil duduk atau berdiri.
  • Sambil berdiri, bergantian antara naik dengan ujung jari kaki dan mengembalikan kedua kaki ke lantai.
  • Lakukan jumping jack, squat, atau jogging di tempat.

Itulah cara atau perawatan untuk menghilangkan rasa nyeri dan penyebab kaki pegal di malam hari yang bisa di lakukan dirumah Anda. 

Mengulik Efek Samping Vaksin Johnson & Johnson

Satu lagi jenis vaksin Covid 19 yang sudah memperoleh izin penggunaan darurat. Adalah vaksin Johnson & Johnson yang sudah mendapatkan izin penggunaan darurat sejak 23 April kemarin. Jenis vaksin ini rencananya akan disebar ke seluruh Amerika minimal 100 dosis sampai pertengahan tahun 2021 ini. 

Daya tarik dari vaksin Johnson & Johnson adalah klaim kemampuan perusahaan bahwa vaksin ini mampu mencegah penyebaran virus corona baru hanya dengan sekali dosis. Tingkat efektivitas dari vaksin ini sendiri berkisar 66—85 persen. 

Selain mampu mencegah penyebaran virus Covid 19, sama seperti vaksin lainnya, vaksin Johnson and Jonson juga punya sejumlah efek samping yang mengintai Anda jika divaksinasi. Berikut ini adalah beberapa jenis kejadian ikutan pasca imunisasi yang terdata pada orang-orang yang sudah memperoleh suntikan vaksin ini. 

  1. Nyeri Otot 

Efek samping ini terjadi di semua jenis vaksin. Sehabis divaksin, Anda akan merasakan nyeri otot di area yang disuntik. Tidak jarang, rasa nyeri tersebut akan diikuti oleh kondisi area kulit yang menjadi kemerahan. 

  1. Pembengkakan 

Pembengkakan mungkin saja terjadi pada Anda ketika menerima vaksinasi Covid 19 yang diproduksi oleh Johnson & Johnson. Jangan berpikir bahwa pembengkakan hanya terjadi di area yang divaksinasi. Nyatanya, pembengkakan akibat vaksin Johnson & Johnson bisa terjadi sampai di wajah dan tenggorokan.

  1. Kelelahan 

Anda mungkin akan mengalami rasa lelah yang berlebih setelah mendapat suntikan vaksin Johnson & Johnson. Biasanya gejala efek samping ini akan segera hilang seiring Anda mengambil waktu untuk tidur sekaligus mengonsumsi makanan bergizi. 

  1. Sakit Kepala 

Merasa sakit kepala karena habis menerima vaksin Johnson and Jonson? Hal ini wajar sebab gejala sakit kepala pun sudah sering dikeluhkan oleh peserta tes vaksin ini sedari awal dan umumnya akan mereda dengan cepat. 

  1. Mual 

Pemberian vaksin Johnson & Johnson ternyata juga bisa berpengaruh ke sistem pencernaan Anda. Beberapa keluhan peserta tes terkait efek vaksin ini berupa rasa mual yang datang tiba-tiba. 

  1. Demam 

Demam merupakan efek samping yang wajar menghampiri seluruh jenis vaksin. Anda pun berpotensi mengalami efek samping ini ketika mendapatkan suntikan vaksin Johnson & Johnson untuk Covid 19. Demam sendiri merupakan sinyal bagus karena menunjukkan reaksi tubuh dalam membentuk imunitas dari virus yang sudah dimasukkan. 

  1. Alergi Parah 

Terdapat kemungkinan minim bahwa vaksin Johnson & Johnson bisa menyebabkan reaksi alergi yag parah. Namun biasanya, efek samping ini terjadi dalam waktu singkat dari beberapa menit sampai 1 jam setelah penyuntikan. Karena alasan inilah, petugas vaksinasi umumnya akan meminta Anda tetap tinggal di tempat vaksinasi guna pemantauan fisik. Beberapa gejala alergi parah yang patut diwaspadai adalah kesulitan bernapas sampai detak jantung yang menjadi sangat cepat. 

  1. Masalah Penglihatan 

Beberapa keluhan terkait penglihatan muncul sehabis pemakaian vaksin Johnson & Johnson. Jika Anda juga termasuk yang mengalaminya kelak, segera hubungan dokter untuk berkonsultasi dan penanganan yang tepat. 

  1. Kelainan Pembekuan Darah 

Efek samping berupa kelainan pembekuan darah yang disebabkan oleh pemberian vaksin Johnson & Johnson sempat membuat geger dan membuat izin penggunaan daruratnya kembali dipertimbangkan. Namun, potensi efek samping ini sangatlah kecil. Kelompok yang rentan mengalaminya adalah perempuan yang berusia di bawah 50 tahun. 

Efek samping dari vaksin Johnson & Johnson tidak seharusnya membuat Anda takut menerima vaksin ini. Bagaimanapun, setiap vaksinasi memang memiliki efek samping yang mungkin terjadi dan sebenarnya bisa ditanggulangi.

Cara Mudah Mengatasi Dada Terasa Panas, Bisa Dilakukan di Rumah!

Dada terasa panas dan muncul sensasi terbakar, sebenarnya tidak selalu menunjukkan tanda berbahaya. Anda bisa mengatasinya, tergantung pada penyebabnya. 

Kondisi dada terasa panas atau disebut juga heartburn, umumnya disebabkan oleh refluks asam alias GERD.

Selain itu, ada beberapa kemungkinan lain yang jadi penyebab dada terasa panas, seperti:

  • Serangan jantung
  • Angina 
  • Maag 
  • Ketegangan otot
  • Cedera pada otot

Untuk memastikannya, Anda bisa melakukan pemeriksaan ke dokter agar bisa menemukkan solusi tepat menanganinya. 

Dalam mendiagnosis masalah ini, dokter akan melakukan beberapa tes, seperti pemeriksaan riwayat medis, pemeriksaan fisik, x-ray dada, ct scan, dan lainnya.

Meski begitu, Anda bisa melakukan beberapa perawatan di rumah yang dapat membantu meredakan nyeri dada dan sensasi terbakar ringan, di antaranya:

1. Kompres  

Umumnya, ketika dada terasa panas, terbakar, dan nyeri disebabkan oleh ketegangan otot karena tekanan dari olahraga, aktivitas lain, atau trauma benda tumpul. 

Pemberian kompres dingin pada area yang nyeri dilakukan untuk membantu mengurangi pembengkakan dan menghentikan rasa sakit. Lakukan juga dengan melakukan pijatan lembut bagian yang sakit.  

2. Permen Karet

Tahukah Anda jika mengunyah permen karet dapat meredakan dan  mengatasi heartburn? Mengunyah permen karet terbukti dapat merangsang produksi air liur yang dapat membantu menetralkan asam lambung. 

Selain itu, mengunyah permen karet membantu pergerakan saluran pencernaan yang mengurangi risiko isi perut kembali naik ke tenggorokan.

3. Yogurt Tanpa Rasa 

Cara meredakan dada terasa panas selanjutnya apakah dengan meminum yogurt tanpa rasa. 

Mengonsumsi yogurt sama dengan meminum satu sendok makan suplemen kalsium atau magnesium cair. Konsumsi kalsium atau magnesium menjadikan tenggorokan lebih basa sehingga mampu menetralkan asam.  

4. Teh Herbal 

Teh herbal tanpa kandungan kafein seperti chamomile dapat meredakan dada terasa panas. 

Chamomile memiliki khasiat menenangkan yang dapat melapisi perut dan kerongkongan serta mengurangi iritasi pada jaringan mukosa. 

5. Pernapasan Dalam 

Melakukan latihan pernapasan dalam-dalam menjadi salah satu cara untuk mengatasi dada terasa panas. 

Teknik pernapasan ini dapat mengurangi jumlah udara yang masuk ke tubuh. Selain itu, pernapasan dalam dapat memperkuat otot-otot yang mengelilingi sfingter esofagus bagian bawah sehingga mengurangi beberapa gejala refluks asam.

6. Diet Mediterania 

Pola makan atau diet Mediterania dapat membantu mengurangi gejala refluks laringofaring (refluks asam) yang mengiritasi tenggorokan. 

Selain itu, batasi konsumsi makanan berminyak dan berlemak. Makanan tersebut dapat memicu terjadinya refluks asam.

7. Mengatur Posisi Tubuh 

Seringkali dada terasa panas muncul ketika hendak tidur. Untuk mengatasi heartburn yang muncul saat tidur, cobalah mengubah posisi tubuh. Anda bisa berbaring miring ke kiri dan buat posisi kepala menjadi lebih tinggi.

Letakkan beberapa bantal di kepala sehingga posisi tenggorokan lebih tinggi dibanding perut.

8. Tetap Terhidrasi 

Memenuhi cairan tubuh akan membuat sistem pencernaan berfungsi menjadi lebih baik. Untuk itu, Anda bisa meminum segelas air, terutama air hangat ketika dada terasa panas. 

Hal ini dapat membantu menjaga makanan tetap bergerak di saluran pencernaan.

Selain itu, hindari hal-hal yang dapat meningkatkan asam lambung seperti makanan asam, pedas, minuman mengandung kafein, soda dan alkohol.

Akan tetapi, jika keadaan tak kunjung membaik, semakin buruk, atau disertai gejala lain yang parah, sebaiknya segera cari bantuan medis. Dokter akan melakukan penanganan yang tepat untuk menangani keluhan Anda.

Mengapa Harus Melakukan Rapid Antigen?


rapid antigen

Swab antigen atau yang lebih dikenal dengan rapid antigen adalah tes diagnostik cepat Covid-19 yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan antigen virus Covid-19 pada sampel yang berasal dari saluran pernapasan. Antigen akan terdeteksi ketika virus aktif bereplikasi. Rapid Antigen merupakan salah satu metode tes untuk mendeteksi adanya virus atau tidak.

Rapid antigen maupun metode tes lainnya memiliki kelebihan dan kekurangan masing – masing. Semua metode tes ini tidak ada yang salah dan benar, melainkan semuanya berperan sesuai dengan kebutuhan masing – masing. Berikut ini sejumlah kelebihan dan kekurangan dari rapid antigen.

Kelebihan rapid antigen

  • Mendeteksi komponen virus secara langsung Baik untuk deteksi fase akut (early case detection) 
  • Tidak membutuhkan masa inkubasi untuk menunjukkan hasil positif 
  • Tidak memerlukan spesifikasi laboratorium khusus untuk pengerjaan rapid test 
  • Tidak memerlukan keterampilan petugas secara khusus dalam pengerjaan rapid test 

Kekurangan rapid antigen

  • Hanya dapat mendeteksi pada fase akut, sedangkan RT-PCR masih positif 
  • Menggunakan sampel saluran napas atas (swab naso/orofaring) 
  • Ketidakterampilan petugas dalam pengambilan spesimen dapat mempengaruhi hasil 
  • Membutuhkan APD level 3 untuk pengambilan spesimen 
  • Memerlukan perhatian khusus terhadap sensitivitas yang bervariasi 
  • Uji validasi masih terbatas sehingga belum dapat menggantikan posisi RT-PCR

Menurut ahli di Centers for Disease Control and Prevention (CDC), tes antigen adalah immunoassay yang mendeteksi keberadaan antigen virus tertentu, yang menunjukkan infeksi virus saat ini. Tes antigen ini kini dilakukan melalui teknik swab pada hidung atau tenggorokan, seperti halnya pengambilan sampel PCR. Masih menurut CDC, tes swab antigen ini paling efektif cepat bekerja dilakukan ketika seseorang dites pada tahap awal infeksi SARS-CoV-2. 

Rapid antigen ini mengambil sampel antigen, yaitu protein yang dikeluarkan oleh virus seperti SARS-CoV-2. Nah, antigen ini terdeteksi ketika ada infeksi yang sedang berlangsung di tubuh seseorang. Singkat kata, tes swab antigen bisa mendeteksi keberadaan antigen virus corona pada tubuh seseorang. Saat ini, baik rapid test antibodi atau antigen, digunakan untuk mendeteksi kasus suspek (sebelumnya disebut PDP, pasien dalam pengawasan), atau pada mereka yang memiliki gejala berat COVID-19.

Rapid antigen ini paling efektif dilakukan ketika seseorang dites pada tahap awal infeksi SARS-CoV-2. Alasannya, di masa ini jumlah virus berada dalam jumlah yang paling tinggi di dalam tubuh. Menurut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Report of the WHO-China Joint Mission on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), gejala COVID-19 meliputi.

  • Demam
  • Batuk kering
  • Kelelahan
  • Produksi dahak
  • Sesak napas
  • Sakit tenggorokan 
  • Sakit kepala 
  • Hidung tersumbat

Di samping itu, ada pula gejala virus corona lainnya yang perlu diwaspadai. Misalnya, anosmia atau hilangnya indra penciuman. Jika memiliki gejala tersebut, segeralah untuk melakukan rapid antigen.

Rapid antigen belum memiliki tingkat akurasi sebaik PCR dalam mendeteksi virus corona. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan rapid test antibodi yang hanya memberikan nilai akurasi sebesar 18%, rapid test antigen memiliki tingkat akurasi yang lebih baik, yaitu hingga mencapai 97%

Proses pemeriksaan ini bisa langsung mendeteksi adanya virus corona pada sampel yang diambil. Anda perlu tahu bahwa antigen umumnya bisa terdeteksi saat virus yang masuk dan menginfeksi tubuh aktif menggandakan diri atau bereplikasi. Berbeda dengan rapid test antibodi yang mendeteksi keberadaan antibodi di dalam darah. Sebagian besar kasus COVID-19, munculnya antibodi baru akan terjadi setelah beberapa hari atau bahkan hitungan minggu setelah virus masuk dan menginfeksi tubuh.

Inilah mengapa rapid antigen menjadi prosedur skrining awal yang paling baik dilakukan saat seseorang baru saja terinfeksi. Jadi, sebelum muncul antibodi untuk melindungi tubuh dan melawan virus, ada antigen yang akan mempelajarinya terlebih dahulu. Eksistensi antigen inilah yang terdeteksi ketika kamu melakukan rapid test antigen. Inilah mengapa Anda lebih disarankan untuk melakukan rapid antigen dibandingkan dengan rapid antibody.

Apa Itu Penyakit Multiple Sclerosis?

Multiple sclerosis adalah penyakit autoimun yang menyerang susunan saraf pusat, yaitu otak dan saraf tulang belakang. Pada penyakit autoimun, sel-sel imun yang seharusnya membantu tubuh melawan penyakit malah menyerang sel-sel tubuh yang sehat. 

image Multiple Sclerosis

Pada multiple sclerosis, yang diserang adalah lapisan yang menyelubungi sel saraf otak dan saraf tulang belakang, yang menyebabkan terjadinya peradangan dan kerusakan sel saraf. Kerusakan sel saraf akan berakibat pada terganggunya hantaran sinyal saraf antara otak maupun saraf tulang belakang dengan bagian tubuh lainnya, sehingga menyebabkan bermacam-macam gejala, yang akhirnya akan mengakibatkan disabilitas dengan tingkat yang berbeda-beda.

Di dunia, ada sekitar 2 sampai 2,5 juta jiwa yang menderita multiple sclerosis, dan paling banyak didiagnosis yakni pada usia 20-40 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan berkembangnya penyakit di luar rentang usia tersebut. Jika dibandingkan dengan pria, jumlah wanita dengan penyakit multiple sclerosis lebih banyak, sekitar dua sampai tiga kali lipat. Dan pada penderita multiple sclerosis, angka harapan hidup sedikit lebih rendah. 

Penyebab Multiple Sclerosis

Seperti kebanyakan penyakit autoimun, penyebab multiple sclerosis belum diketahui. Namun, mekanismenya adalah karena kesalahan sistem imun. Sementara itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang rentan terkena penyakit multiple sclerosis, di antaranya:

  • Terdapat riwayat keluarga dengan multiple sclerosis;
  • Adanya infeksi, terutama infeksi virus Epstein-Barr;
  • Ras: multiple sclerosis lebih sering ditemukan pada orang kulit putih, utamanya di benua Eropa;
  • Menderita penyakit autoimun lain;
  • Akif merokok;

Kekurangan Vitamin D, terutama terjadi pada orang yang kurang terpapar sinar matahari atau tinggal di negara yang tidak mendapatkan sinar matahari yang cukup.

Gejala Multiple Sclerosis

Gejala multiple sclerosis adalah begitu bervariasi, tergantung tipe, lokasi saraf yang terkena, dan tingkat keparahan setiap individu. Gejala awal yang sering ditemukan itu meliputi:

  • Gangguan penglihatan, berupa pandangan kabur, pandangan ganda, kehilangan penglihatan sementara, nyeri terutama saat menggerakan mata;
  • Gangguan sensasi, berupa kesemutan, mati rasa, rasa terbakar, rasa tertusuk jarum. Lokasi gangguan sensou biasanya terjadi di bagian wajah, lengan, dan kaki;
  • Nyeri dan ketegangan/kekakuan terutama di kaki dan punggung;
  • Kelemahan otot, biasanya pertama kali terdampak di bagian kaki;
  • Kelelahan saat melakukan aktivitas sehari-hari;
  • Gangguan keseimbangan yang mengakibatkan kesulitan bergerak dan berjalan;
  • Pusing/sakit kepala; 
  • Gangguan berkemih, seperti frekuensi kemih yang meningkat, tidak bisa menahan kemih, sampai infeksi saluran kemih berulang;
  • Gangguan buang air besar, seperti konstipasi dan tidak bisa menahan buang air besar;
  • Disfungsi seksual;
  • Gangguan kognitif, seperti gangguan memori, atensi, konsentrasi, dan berpikir;
  • Gangguan mental, atau yang sering kita dengar dengan depresi.

Pengobatan Multiple Sclerosis

Sejauh ini, multiple sclerosis belum bisa disembuhkan. Dan yang bisa dilakukan saat ini adalah, pengobatan terapi. Terapi yang ada saat ini hanya dapat mempercepat pemulihan setelah serangan, memperlambat progresivitas penyakit, dan meringankan gejala yang timbul. Untuk gejala yang ringan kadang tidak diperlukan terapi. 

Terapi multiple sclerosis dibagi menjadi tiga, yaitu terapi saat terjadi serangan, terapi jangka panjang untuk memperlambat progresivitas penyakit, dan terapi untuk meringankan gejala.

Terapi untuk Serangan

Kortikosteroid: menekan aktivitas sel imun sehingga dapat mengurangi peradangan yang terjadi pada sel saraf. Pilihannya adalah prednison oral (minum) dan injeksi metilprednisolon.

Plasmapheresisdilakukan dengan mengeluarkan plasma (bagian cair dari darah) dari tubuh dan memisahkannya dengan sel darah merah. Sel darah merah kemudian dicampur dengan albumin (protein) dan dimasukkan kembali ke dalam tubuh. Tujuan tindakan ini adalah untuk ‘mencuci’ sel imun yang ada di plasma. Tindakan ini dilakukan saat gejala baru muncul, parah, dan tidak membaik dengan pemberian kortikosteroid.

Terapi untuk Memodifikasi Perjalanan Penyakit

Beberapa jenis obat yang dipakai adalah seperti beta interferon, fingolimod, glatiramer acetate, natalizumab, teriflunomide, alemtuzumab.

Terapi untuk Meringankan Gejala

Fisioterapi: untuk melemaskan otot yang kaku, menguatkan otot yang lemah, dan melatih pasien untuk menggunakan alat bantu secara tepat untuk mempermudah aktivitas sehari-hari, seperti berjalan.

Obat pelemas otot: untuk nyeri dan ketegangan/kekakuan otot. Contoh obat: baclofen, tizanidine. Kemudian, obat untuk meringankan kelelahan, serta obat untuk gejala lain (depresi, nyeri, disfungsi seksual, gangguan BAK dan BAB, disesuaikan sesuai gejala yang ada).

Demikianlah apa-apa saja yang perlu diketahui terkait multiple sclerosis. Penyakit ini, multiple sclerosis, adalah penyakit autoimun langka yang belum ditemukan cara mengobatinya. Jadi, seseorang hanya memiliki kesempatan untuk mencegah terjadinya dengan melakukan berbagai upaya yang ada.

Mengetahui Gejala, Penyebab, hingga Pengobatan Limfoma Hodgkin

Pernah mendengar Limfoma Hodgkin? Limfoma hodgkin adalah kanker darah yang melibatkan sistem limfatik, dimana limfatik normal berubah menjadi kanker. Sistem limfatik sendiri berperan dalam imunitas tubuh. Pada sistem limfatik terdapat kelenjar, pembuluh, dan cairan getah bening yang mengandung sel darah putih (limfosit).

Limfoma hodgkin terjadi karena terdapat gangguan pada sel darah putih, tepatnya pada limfosit tipe B. Penderita penyakit ini mudah terkena infeksi, hal ini karena kadar limfosit yang mengalami gangguan diproduksi oleh tubuh dalam jumlah banyak. Limfosit yang rusak akan kehilangan fungsinya dan dapat menyebabkan kondisi yang tidak diinginkan. 

Gejala limfoma hodgkin

Limfoma hodgkin menunjukkan beragam gejala. Untuk gejala umum yang dapat dirasakan oleh penderitanya, antara lain:

  • Demam yang panjang dan berulang
  • Penurunan berat badan drastis tanpa sebab yang jelas
  • Sering berkeringat malam hari
  • Nafsu makan menurun
  • Rasa lelah yang berkepanjangan
  • Batuk terus-menerus
  • Gatal pada seluruh tubuh dan berlangsung lama
  • Mengalami mimisan atau darah haid yang banyak
  • Sesak nafas

Tanda lainnya yang dapat terlihat adalah terdapat pembengkakan kelenjar getah bening yang bisa diraba, terutama pada bagian leher, ketiak, dan di daerah selangkangan

Penyebab limfoma hodgkin yang harus diwaspadai

Limfoma hodgkin disebabkan karena terjadi mutasi DNA sel limfosit tipe B yang membuatnya rusak. Tidak hanya rusak, sel limfosit tipe B tersebut juga dapat memproduksi dirinya dalam jumlah yang berlebihan. Dengan jumlah yang banyak, ia dapat menyebar ke seluruh organ tubuh dan menyerang sumsum tulang, hati, atau paru-paru.

Beberapa faktor lainnya yang menyebabkan seseorang dapat menderita limfoma hodgkin, antara lain:

  • Memiliki sistem imunitas yang lemah

Sistem limfatik memiliki peran dalam imunitas tubuh. Jika seseorang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, bisa membuatnya rentan untuk mengidap limfoma hodgkin. Orang yang menderita penyakit HIV/AIDS juga dapat meningkatkan risiko limfoma hodgkin dapat terjadi.

  • Pernah Terinfeksi Epstein barr virus ( EBV)

Saat terinfeksi Epstein barr virus ( EBV), penderitanya akan mengalami penyakit demam kelenjar. Orang yang pernah terinfeksi Epstein barr virus ( EBV) memiliki risiko untuk menderita limfoma hodgkin lebih tinggi.

  • Obesitas

Orang yang memiliki berat badan berlebihan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengidap limfoma hodgkin.

Diagnosis limfoma hodgkin

Diagnosis limfoma hodgkin dilakukan dokter dengan melakukan wawancara dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan melalui beberapa cara berikut:

  • Biopsi

Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel kelenjar getah bening dan diperiksa melalui mikroskop. Biopsi juga membantu dokter untuk menentukan jenis limfoma hodgkin.

  • Tes darah

Limfoma hodgkin terjadi karena kerusakan sel darah putih. Tes darah ini dilakukan untuk memeriksa sel darah putih dan zat lainnya seperti sel darah merah serta keping darah.

  • Pungsi lumbal

Pada tes ini, dokter mengambil sampel cairan pada sumsum tulang belakang dengan menggunakan jarum panjang.

  • Pemeriksaan pemindaian

Untuk mengetahui stadium dan penyebaran kanker, dokter dapat mendeteksinya melalui pemeriksaan rontgen, CT scan, PET scan, dan MRI.

Pengobatan limfoma hodgkin

Untuk mengobati penyakit ini, ditentukan berdasarkan tingkat keparahan dan jenis limfoma hodgkin yang diderita pasien. Beberapa jenis pengobatan yang dapat dilakukan adalah:

  • Kemoterapi

Kemoterapi dilakukan dengan memberikan penderita limfoma hodgkin obat yang dapat membunuh sel kanker melalui pil dan infus. 

Saat menjalani kemoterapi, akan terdapat beberapa efek samping yang dirasakan seperti rambut rontok dan rasa mual.

  • Radioterapi

Radioterapi adalah pengobatan dengan menggunakan sinar berenergi besar yang bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker.

Tidak jauh berbeda dengan kemoterapi, pasien akan merasakan efek samping seperti rambut rontok dan lemas setelah terapi.

  • Imunoterapi

Pengobatan dengan imunoterapi adalah pengobatan yang dilakukan dengan sistem imun pasien sendiri atau obat yang dibuat dari komponen sistem imun. 

Pada limfoma hodgkin, dilakukan beberapa treatment seperti antibodi monoklonal yang mempunyai sasaran protein dan injeksi sebagai penghambat checkpoint.

  • Transplantasi stem cell

Pada beberapa penderita, dokter akan merekomendasikan transplantasi stem cell. Sebagian stem cell akan diambil dan disimpan terlebih dahulu. Selanjutnya pasien akan menjalani terapi kemoterapi dan radiasi, kemudian stem cell yang disimpan akan dimasukkan kembali ke dalam tubuh melalui pembuluh darah.

Siapa yang beresiko mengidap limfoma hodgkin?

Limfoma hodgkin hodgkin dapat menyerang siapa saja. Namun, penderita penyakit ini mayoritas berusia 20 hingga 55 tahun.

Riwayat limfoma hodgkin pada keluarga dapat menjadi faktor anggota keluarga lainnya diserang penyakit ini. Selain itu, limfoma hodgkin juga lebih banyak ditemukan pada wanita dibandingkan laki-laki.

Jika Anda merasakan adanya gangguan kesehatan pada tubuh atau terdapat pembengkakan kelenjar getah bening, segera konsultasikan pada dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Mengulik Fakta Seminal Plasma Hypersensitivity

Anda mungkin belum terlalu familiar dengan penyakit seminal plasma hypersensitivity. Namun, bagaimana dengan alergi sperma. Sebutan alergi sperma memang lebih familiar di telinga masyarakat. Sesuai namanya, penderita penyakit ini akan mengalami gejala, seperti gatal-gatal dan kulit kemerahan, ketika ada bagian kulit dalam tubuh yang terkena sperma. 

Seminal plasma hypersensitivity disebabkan oleh kondisi tubuh penderita yang tidak cocok dengan komponen protein yang terdapat pada sperma. Alhasil, ketidakcocokan tersebut akan menimbulkan berbagai macam gejala, mulai dari rasa gatal sampai kehilangan kesadaran. 

Banyak fakta menarik mengenai seminal plasma hypersensitivity. Tidak ada salahnya Anda mencoba mengulik soal penyakit yang satu ini melalui berbagai fakta di bawah ini. 

image Seminal Plasma Hypersensitivity

Reaksi Cepat 

Reaksi alergi yang timbul pada penderita seminal plasma hypersensitivity sangatlah cepat. Dari waktu Anda melakukan hubungan seksual dan ada bagian kulit yang terkena sperma, reaksi alergi bisa muncul paling cepat 10 menit setelahnya. Ada juga beberapa penderita seminal plasma hypersensitivity yang mengaku merasakan alergi 30 menit setelah. Namun, tidak ada gejala yang muncul lebih lambat daripada kisaran waktu tersebut. 

Wanita Lebih Rentan 

Seminal plasma hypersensitivity termasuk penyakit langka. Penyakit yang tergolong alergi ini bisa menyerang siapa saja, baik wanita maupun pria. Namun, penderita seminal plasma hypersensitivity terdata lebih banyak yang berjenis kelamin wanita. 

Usia Krusial

Kebanyakan penderita seminal plasma hypersensitivity menyadari penyakitnya ketika melakukan aktivitas seksual untuk pertama kali. Namun, ada juga penderita yang awalnya tidak ada masalah dengan protein pada sperma, namun mendadak mengalami gejala seminal plasma hypersensitivity setelah berulang kali melakukan hubungan seksual. Kondisi ini berhubungan dengan usia. Umumnya, alergi sperma akan semakin parah dan menunjukkan gejala signifikan ketika usia penderita sudah melewati 30 tahun. 

Area Terserang 

Alat kelamin Anda menjadi bagian yang paling mudah terserang seminal plasma hypersensitivity dan menunjukkan gejalanya. Untuk wanita, gejala alergi sperma ini akan tampak jelas di bagian bibir kemaluan atau vulva. Sementara pada laki-laki, area yang terserang alergi sperma umumnya berada di batang penis ataupun sekitar kulit bagian atas alat kelamin

Bisa Menyebar 

Meskipun kebanyakan gejala seminal plasma hypersensitivity berada di sekitar area kelamin, pada kondisi tertentu gejala tersebut juga bisa menyerang tubuh bagian lain. Penyebaran gejala alergi yang paling sering terjadi adalah munculnya bentol-bentol dan pembengkakan di sekujur tubuh. Bahkan, pembengkakan juga dapat terjadi hingga ke lidah penderita penyakit ini. 

Sulit Diagnosis 

Seminal plasma hypersensitivity tergolong sebagai penyakit langka sehingga penelitian terkait alergi ini masih sangat minim. Dokter sekalipun bisa salah mendiagnosa penyakit ini pada pasiennya. Hal ini karena gejala yang ditimbulkan oleh seminal plasma hypersensitivity menyerupai beberapa penyakit menular seksual, seperti herpes ataupun klamidia. Gejala alergi sperma ini juga sering disalahkan artikan sebagai infeksi jamur ataupun bakteri di vagina. 

Kurangi lewat Hubungan 

Untuk menghindari munculnya gejala seminal plasma hypersensitivity, Anda disarankan menggunakan kondom setiap kali berhubungan seksual. Namun, beberapa orang memang kerap tidak menyadari penggunaan kondom dalam aktivitas seksualnya. Untuk mengurangi gejala penyakit ini, dokter umumnya akan menyarankan penderita untuk aktif dan rutin melakukan hubungan seksual minimal 48 jam sekali. 

Penderita Sulit Hamil 

Alergi sperma memang bukan menunjukkan tanda-tanda ketidaksuburan. Bahkan bisa jadi, penderita penyakit ini memiliki fertilitas yang baik. Namun terkendalanya hubungan seksual karena masalah gejala alergi inilah yang akhirnya membuat penderita seminal plasma hypersensitivity menjadi lebih sulit hamil. Tidak jarang, penderita alergi sperma akhirnya menempuh jalur inseminasi intrauterine (IUI) atau fertilisasi in vitro (IVF) untuk memperoleh keturunan.

Jangan sepelekan penyakit yang satu ini, ya. Meskipun namanya alergi, gejala dari seminal plasma hypersensitivity bahkan bisa membuat Anda sesak napas dan hilang kesadaran! Mengenali fakta dan gejalanya sedari awal menjadi jalan terbaik untuk berkonsultasi ke dokter. 

Pemeriksaan Komorbid Penting di Tengah Masa Pandemi Covid-19

Angka penularan virus corona di Indonesia belum juga melandai, malah cenderung terus naik. Kondisi ini termasuk jumlah kematian yang terjadi. Perlu diketahui bahwa hampir seluruh kematian covid-19 disertai oleh komorbid. Artinya, pemeriksaan komorbid punya peran vital dalam rangka upaya pencegahan penularan virus corona.

Komorbiditas adalah istilah lain untuk “penyakit penyerta”. Dalam dunia kedokteran, istilah tersebut menggambarkan kondisi bahwa ada penyakit lain yang dialami selain dari penyakit utamanya. Sementara selama ini, kita mengenal istilah komplikasi. Baik komplikasi maupun komorbiditas memiliki arti yang sama.

Dalam situasi pandemi corona, komorbiditas ini seperti musuh dalam selimut. Orang-orang berkomorbid, selain jadi lebih rentan terpapar, juga memiliki risiko mengalami gejala yang parah apabila positif corona. Beberapa komorbiditas yang tercatat perlu diwaspadai dalam situasi ini adalah hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, penyakit ginjal, dan penyakit hati.

Jika seseorang sudah mengetahui kondisi dan riwayat kesehatan mereka sebelumnya, mungkin mereka jadi lebih bisa meningkatkan kewaspadaan. Nah, masalahnya adalah mereka yang tidak pernah tahu ada apa di dalam tubuhnya. Ini layaknya bom waktu, sebab mungkin selama ini mereka merasa baik-baik saja, tetapi ketika terpapar virus corona, baru diketahui bahwa ada penyakit bawaan sehingga penanganannya jadi lebih sulit.

Sebagai langkah antisipasi, penting sekali bagi tiap-tiap individu melakukan pemeriksaan komorbid di tengah situasi pandemi virus corona seperti saat ini. Jangan sampai terlambat ketika situasinya sudah terlampau rumit.

Sebenarnya, tidak ada prosedur medis yang secara khusus dilakukan untuk memeriksa komorbid dalam rangka pencegahan covid-19. Prosedur yang dijalani tak lain adalah pemeriksaan masing-masing komorbid itu sendiri. Maksudnya, seperti pemeriksaan khusus diabetes—dengan beragam prosedur, termasuk sampelnya—atau pemeriksaan hipertensi pada umumnya.

Akan tetapi, di fasilitas kesehatan, ketika seseorang datang dengan maksud dan tujuan khusus melakukan pemeriksaan komorbid, tenaga medis akan mengambil sampel darah vena Anda untuk kemudian dilakukan uji di laboratorium. Dari sampel darah tersebut kemudian akan dilakukan berbagai macam pengujian, seperti:

  • Profil lemak;
  • Fungsi hati;
  • Fungsi ginjal;
  • Uji karbohidrat;
  • Tensi darah;
  • Darah lengkap.

Kendati telah melakukan pemeriksaan komorbid, tidak ada jaminan seseorang bakal terbebas dari virus corona. Mereka, baik yang memiliki komorbiditas ataupun yang tidak, tetap wajib melaksanakan protokol kesehatan yang berlaku.

Khusus mereka yang berkomorbid, selanjutnya, harus melakukan tiga hal rutin yang pasti sudah diingatkan oleh dokter yaitu jaga terus asupan makanan dan minuman, tetap jalani kebiasaan sehat, dan tetap rutin melakukan pemeriksaan kesehatan ke dokter.

Mungkin, beberapa tips di bawah ini perlu diketahui bagi mereka yang baru melakukan pemeriksaan komorbid dan hasilnya menunjukkan bahwa mereka berpotensi besar mengalami gejala parah apabila terpapar covid-19:

  • Para pemilik komorbid diimbau agar di rumah saja jika tidak ada kepentingan mendesak untuk keluar rumah;
  • Tingkatkan daya tahan tubuh sebaik mungkin dengan makan makanan yang bergizi, hindari gula, garam dan lemak yang berlebihan. Bila diperlukan, konsumsi suplemen atau multivitamin, tetapi harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu;
  • Selalu jaga jarak minimal 1 sampai 2 meter dan hindari kerumunan atau keramaian;
  • Sering cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik. Jika tidak memungkinkan gunakan hand sanitizer yang mengandung 60 persen alkohol;
  • Gunakan masker dengan baik dan benar jika harus keluar rumah;
  • Hindari menyentuh wajah, hidung, mata, dan mulut jika belum mencuci tangan;
  • Upayakan aktivitas fisik 30 menit per hari atau sesuai dengan saran dokter;
  • Tidur cukup yakni 6-8 jam dengan kualitas tidur yang baik;
  • Jika Anda stres bingung dan takut, bicarakan pada orang yang dikenal dan dipercaya agar dapat saling membantu dan menguatkan.

Kiranya itulah beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk terhindar dari kemungkinan tertular dan/atau kemungkinan menderita gejala berat ketika terpapar virus corona, selain melakukan pemeriksaan komorbid.

Sakit Kepala Berdenyut, Apa Yang Perlu Dilakukan?

Setiap orang dihimbau untuk menerapkan pola hidup yang sehat supaya terhindar dari risiko seperti sakit kepala. Sakit kepala berdenyut dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada kepala. Kondisi tersebut juga dapat mengganggu aktivitas manusia sehari-hari.

Penyebab Sakit Kepala

Sakit kepala berdenyut dapat timbul secara berulang kali. Sakit kepala berdenyut terjadi karena pelebaran pembuluh darah yang mencoba meningkatkan aliran darah kepala. Kondisi tersebut dapat terjadi di berbagai sisi kepala.

Selain itu, sakit kepala berdenyut terjadi karena beberapa faktor berikut:

  • Migrain

Migrain merupakan sakit kepala yang terjadi pada satu sisi. Ada beberapa faktor yang dapat membuat seseorang mengalami migrain, antara lain dehidrasi, makanan tertentu, suara yang keras, dan faktor cuaca. Migrain juga dapat timbul secara berulang kali.

Migrain tidak hanya menyebabkan sakit kepala berdenyut, namun kondisi tersebut juga dapat menyebabkan seseorang bersin, batuk, nyeri, mual, dan muntah.

  • Sinusitis

Sinusitis merupakan faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami sakit kepala berdenyut. Sinusitis menyebabkan pembengkakan atau penyumbatan pada bagian sinus sehingga dapat memicu rasa nyeri pada beberapa bagian kepala.

  • Neuralgia oksipital

Neuralgia oksipital merupakan kondisi yang juga perlu diwaspadai, karena dapat menyebabkan sensasi terbakar dan berdenyut dari dasar tengkorak yang akan menyebar ke seluruh kulit kepala.

  • Penggunaan kafein

Jika Anda sering mengkonsumsi minuman yang mengandung kafein, maka Anda akan kecanduan terhadap kandungan tersebut. Jika Anda mengurangi atau berhenti mengkonsumsi minuman tersebut, maka sejumlah gejala akan timbul, antara lain kurang bertenaga, merasa ngantuk, sakit kepala berdenyut, sulit berkonsentrasi, nyeri otot, mual, dan muntah.

  • Penggunaan alkohol

Mengkonsumsi alkohol secara berlebihan tidak hanya menyebabkan penurunan kesadaran atau mabuk, namun juga dapat memperbesar dan menimbulkan iritasi pada pembuluh darah di otak dan jaringan sekitarnya sehingga dapat menyebabkan sakit kepala.

Penggunaan alkohol secara berlebihan juga dapat menimbulkan gejala lain berupa penurunan nafsu makan, tubuh terasa sensitif, lemas, diare, dan mual.

Cara Mengatasi Sakit Kepala

Jika Anda mengalami sakit kepala berdenyut dan ingin mengobati kondisi tersebut, Anda dapat mencoba beberapa cara di bawah:

  • Mengkonsumsi obat

Salah satu cara yang dapat Anda lakukan adalah mengkonsumsi obat pereda sakit kepala seperti paracetamol dan ibuprofen. Sebelum mengkonsumsi obat tersebut, Anda sebaiknya baca aturan pemakaiannya.

  • Mengkonsumsi air putih

Anda juga perlu mengkonsumsi air putih setiap hari dalam jumlah yang cukup. Kurangnya air putih tidak hanya menyebabkan dehidrasi, namun juga dapat mengurangi konsentrasi manusia dan menyebabkan sakit kepala.

  • Mengkonsumsi makanan sehat

Anda perlu mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi untuk mencegah risiko pada tubuh seperti sakit kepala. Anda dapat mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan untuk mendukung kondisi tubuh Anda.

  • Mengatur pola tidur

Setiap orang perlu tidur setidaknya 6 jam sehari. Jika Anda kekurangan tidur, maka Anda tidak dapat berkonsentrasi dengan baik dan mengalami sakit kepala.

  • Jangan mengkonsumsi alkohol atau kafein

Anda jangan mengkonsumsi alkohol atau kafein secara berlebihan, karena kedua minuman tersebut dapat menimbulkan berbagai gejala sehingga dapat membuat Anda sulit berkonsentrasi.

Jika Kondisi Memburuk

Jika Anda mengalami sakit kepala yang cukup parah, Anda dapat menghubungi dokter. Sebelum bertemu dengan dokter, Anda dapat mempersiapkan diri dengan beberapa hal sebagai berikut:

  • Daftar pertanyaan yang ingin Anda ajukan ke dokter.
  • Daftar gejala yang Anda alami.
  • Daftar riwayat medis (jika diperlukan).

Ketika Anda bertemu dengan dokter, dokter akan menanyakan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala tersebut terjadi?
  • Berapa lama gejala tersebut terjadi?
  • Apakah Anda memiliki kebiasaan tertentu sehingga Anda mengalami sakit kepala?

Setelah mengetahui kondisi Anda, dokter dapat melakukan diagnosis seperti CT scan atau MRI. Setelah itu, dokter dapat memberikan pengobatan terhadap kondisi tersebut, dan Anda perlu melakukan cara-cara yang dapat mencegah sakit kepala seperti tidak mengkonsumsi alkohol secara berlebihan.

Kesimpulan

Sakit kepala berdenyut merupakan kondisi yang perlu diwaspadai, karena dapat mengganggu konsentrasi manusia. Untuk mengobati sakit kepala berdenyut, cara-caranya sederhana, namun Anda perlu melakukannya secara rutin untuk mencegah risiko tersebut terjadi lagi. Untuk informasi lebih lanjut tentang sakit kepala, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter.

Apa Itu Penyakit Ginjal Polikistik?

Penyakit ginjal polikistik adalah gangguan ginjal turunan yang menyebabkan kista berisi cairan terbentuk di ginjal. Penyakit ginjal polikistik dapat mengganggu fungsi ginjal dan untuk akhirnya menyebabkan kegagalan ginjal. Penyakit ini merupakan penyebab kegagalan ginjal terbesar keempat. Orang-orang yang menderita penyakit ginjal polikistik juga dapat mengembangkan kista di hati dan komplikasi lain yang berbahaya. 

Banyak orang hidup dengan penyakit ginjal polikistik selama bertahun-tahun tanpa mengalami gejala apapun yang berhubungan dengan penyakit ini. Kista yang tumbuh pada umumnya berukuran  0,5 inci atau lebih besar sebelum seseorang menyadari adanya gejala tertentu. 

Gejala yang biasanya diasosiasikan dengan penyakit ginjal polikistik adalah rasa nyeri di perut, darah pada air seni, sering buang air kecil, nyeri di bagian sisi tubuh, infeksi saluran kemih, batu ginjal, nyeri pada punggung atau punggung terasa berat, kulit yang mudah lebam, kulit yang pucat, kelelahan, nyeri persendian, dan ketidaknormalan kuku. 

Anak dengan penyakit ginjal polikistik yang bersifat autosomal resesif akan memiliki gejala seperti tekanan darah tinggi, adanya infeksi pada saluran kemih, dan sering buang air kecil. Gejala pada anak dapat mirip gejala penyakit atau kondisi lain. Sangat penting untuk mendapatkan perawatan medis secepatnya pada anak apabila gejala yang disebutkan sebelumnya muncul. 

Apa penyebabnya?

Penyakit ginjal polikistik umumnya bersifat turunan. Dalam beberapa kasus yang jarang ditemui, penyakit ini berkembang pada orang-orang yang menderita gangguan ginjal serius. Ada tiga jenis penyakit ginjal polikistik, yaitu:

  • Penyakit ginjal polikistik autosomal dominan

Penyakit ginjal polikistik autosomal dominan (ADPKD) juga terkadang disebut dengan istilah penyakit ginjal polikistik dewasa. Menurut Badan Ginjal Nasional, kondisi ini meliputi 90 persen dari semua kasus penyakit ginjal polikistik. Seseorang yang memiliki orang tua yang menderita penyakit ginjal polikistik memiliki kemungkinan 50 persen untuk menderita kondisi serupa. Gejala biasanya berkembang saat seseorang menginjak usia 30 hingga 40 tahun. Namun, beberapa orang akan memiliki gejala tersebut pada masa kanak-kanak. 

  • Penyakit ginjal polikistik autosomal resesif

Penyakit ginjal polikistik autosomal resesif (ARPKD) lebih jarang ditemui dibandingkan dengan ADPKD. Kondisi ini juga merupakan kondisi bawaan, namun kedua orang tua harus membawa gen yang menyebabkan penyakit ini. Mereka yang merupakan seorang “carrier” ARPKD tidak akan menunjukkan gejala apapun apabila mereka hanya membawa 1 gen. Apabila mereka mewarisi kedua gen, satu dari masing-masing orang tua, mereka akan menderita ARPKD. Ada empat jenis ARPKD, yaitu “perinatal form” (yang muncul saat seseorang lahir), “neonatal form” (yang terjadi pada bulan pertama hidup bayi), “infantile form” (yang terjadi saat seorang anak berusia 3 hingga 12 tahun), dan “juvenile form” (yang terjadi setelah anak berusia 1 tahun).

  • Acquired cystic kidney disease

Kondisi ini tidak bersifat turunan dan biasanya terjadi saat seseorang telah dewasa. Acquired cystic kidney disease biasanya berkembang pada orang-orang yang telah memiliki gangguan kesehatan ginjal lain, dan lebih sering dijumpai pada orang-orang yang memiliki gagal ginjal atau sedang dalam dialisis ginjal. 

Selain gejala yang dapat dirasakan saat seseorang menderita penyakit ginjal polikistik, akan ada banyak komplikasi kesehatan yang terjadi akibat kista di ginjal yang bertambah besar. Komplikasi tersebut di antaranya adalah melemahnya daerah pada dinding arteri yang dikenal dengan nama aneurysm otak, kista pada dan di dalam hati, kista di pankreas dan testis, katarak atau kebutaan, penyakit hati, anemia atau kekurangan sel darah merah, tekanan darah tinggi, kegagalan ginjal, dan batu ginjal.