Vaksin Rotavirus dan Vaksin Penting Lainnya

Saat bayi baru lahir, mereka akan diberikan beberapa vaksin. Idealnya, pada saat anak menginjak usia masuk taman kanak-kanak, mereka akan telah menerima ketiga vaksin hepatitis B, vaksin DTaP (diphtheria, tetanus, dan pertussis), vaksin haemophilus influenzae tipe B (Hib), vaksin pneumococcal conjugate (PCV), vaksin poliovirus tidak diaktifkan (IPV), dan vaksin MMR (campak, gondongan, dan rubella). Banyak sekolah membutuhkan bukti bahwa anak Anda telah divaksinasi, dan bisa tidak memperbolehkan anak mendaftar apabila semua vaksinasi yang disebutkan sebelumnya belum didapatkan. Namun ada beberapa vaksin penting lain, seperti vaksin rotavirus, yang mungkin perlu Anda berikan untuk anak. Artikel ini akan membahas jenis vaksin apa yang perlu dipertimbangkan. 

Vaksin rotavirus

Vaksin rotavirus adalah jenis vaksin untuk virus rotavirus, sebuah virus yang sangat menular yang dapat menyebabkan diare parah pada bayi dan anak-anak. Virus ini sering menyebabkan muntah dan demam. Jika tidak diobati, rotavirus dapat menyebabkan dehidrasi parah dan bahkan kematian. Menurut PATH, sebuah organisasi kesehatan non-profit internasional, setiap tahunnya lebih dari 500 ribu anak-anak di seluruh dunia meninggal akibat penyakit diare, dan sepertiga dari kematian tersebut disebabkan karena rotavirus. Jutaan lain menjalani rawat inap setiap tahunnya setelah terinfeksi oleh virus ini. 

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merekomendasikan kebanyakan bayi untuk divaksinasi vaksin rotavirus agar tercegah tertular penyakit ini. Dua vaksin rotavirus oral yang telah disetujui penggunaannya dalam mencegah infeksi rotavirus adalah Rotarix dan RotaTeq. Vaksin tersebut hadir dalam dua atau tiga dosis, dan CDC merekomendasikan pemberian dosis pada usia 2, 4, dan 6 bulan. Dosis pertama harus diberikan sebelum bayi berusia 15 bulan dan dosis terakhir harus diberikan sebelum bayi berusia 8 bulan. Penting untuk diingat bahwa beberapa bayi tidak boleh mendapatkan vaksin ini, misalnya bayi yang menunjukkan reaksi alergi terhadap vaksin rotavirus atau memiliki riwayat serius alergi lainnya. CDC juga merekomendasikan bayi yang memiliki imunodefisiensi kombinasi parah (SCID), gangguan sistem kekebalan lainnya, atau jenis penyumbatan usus yang disebut intussusception tidak boleh mendapatkan vaksin ini. Sama seperti vaksin lain, vaksin rotavirus hadir dengan risiko efek samping seperti diare atau mual sementara, demam, hilangnya nafsu makan, dan rewel. Meskipun jarang dijumpai, efek samping serius di antaranya adalah intususepsi dan reaksi alergi. 

Vaksin meningococcal (MCV)

Penyakit meningococcal adlaah sebuah penyakit bakteri serius yang dapat menyebabkan meningitis (peradangan pada lapisan pelindung yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang) dan infeksi aliran darah atau sepsis. Anak-anak bisa mendapatkan penyakit meningococcal akibat hidup berdampingan dengan orang yang terinfeksi virus ini. Berbagai penggunaan alat makan, berciuman, atau menghirup asap rokok yang orang yang terinfeksi akan menularkan virus ini. 

CDC merekomendasikan anak-anak usia 11 atau 12 tahun hingga 16 tahun mendapatkan vaksin meningococcal dalam dua dosis. Sama seperti vaksin rotavirus, vaksin meningococcal juga dapat menyebabkan efek samping yang relatif ringan, seperti rasa sakit dan tanda kemerahan pada daerah tubuh yang disuntik, sakit kepala, kelelahan, dan rasa nyeri. Satu efek samping parah namun sangat jarang dijumpai adalah sindrom Guillain-Barre, sebuah gangguan yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh seseorang malah merusak sel saraf mereka. Untuk semua jenis vaksin, risiko reaksi alergi cukup kecil, namun sangat berbahaya. Untuk itu, selalu diskusikan dengan dokter terlebih dahulu guna memastikan keefektifan dan keamanan vaksin. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *